TEL AVIV, ISRAEL – Militer Israel mengumumkan keberhasilan operasi besar di Khan Younis, Gaza, yang diklaim telah menewaskan Muhammad Sinwar, sosok yang disebut sebagai pemimpin de facto Hamas.
Serangan udara yang menargetkan sebuah rumah sakit di wilayah tersebut pada Selasa (13/5/2025) menjadi sorotan dunia, memicu pertanyaan: apakah Muhammad Sinwar benar-benar tewas, atau ini sekadar strategi propaganda?
Serangan Berulang di Khan Younis
Menurut laporan, jet tempur Israel membombardir area di sekitar Rumah Sakit Eropa di Khan Younis, menyasar apa yang disebut sebagai pusat komando bawah tanah Hamas. Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyatakan, “Serangan ini menargetkan operasi Hamas di pusat komando dan kendali di infrastruktur bawah tanah rumah sakit tersebut.”
Namun hingga kini, IDF belum mengonfirmasi secara pasti kematian Muhammad Sinwar, hanya menyebutkan bahwa serangan itu menargetkan “operasi Hamas” di lokasi tersebut.
Beberapa jam setelah serangan awal, media Palestina melaporkan adanya serangan tambahan di sekitar rumah sakit. Diduga, ini adalah upaya IDF untuk mencegah siapa pun mendekati terowongan tempat Sinwar bersembunyi. Setidaknya 16 orang dilaporkan tewas dalam serangan tersebut, meski belum ada keterangan resmi soal identitas korban.
Muhammad Sinwar, adik dari mantan pemimpin Hamas Yahya Sinwar, dianggap sebagai figur kunci dalam struktur kepemimpinan Hamas. Ia diyakini mengambil alih kendali setelah kematian kakaknya pada Oktober 2024. Namanya mulai mencuat sejak perang Gaza pecah pada 7 Oktober 2023.
Sinwar dikenal sebagai salah satu otak di balik operasi militer Hamas, termasuk penculikan tentara Israel Gilad Shalit pada 2006.
Sebelumnya, Israel juga mengklaim telah menewaskan dua pemimpin senior Hamas: Ismail Haniyeh, yang tewas dalam serangan bom di Teheran, dan Yahya Sinwar, kakak Muhammad, yang terbunuh di Gaza. Jika kematian Muhammad Sinwar terkonfirmasi, ini akan menjadi pukulan ketiga bagi kepemimpinan Hamas dalam kurun waktu kurang dari dua tahun.
Hamas Bantah Klaim Israel
Hamas dengan tegas membantah tuduhan Israel. Dalam pernyataan resmi, mereka menolak klaim bahwa Muhammad Sinwar berada di lokasi serangan atau bahwa rumah sakit digunakan sebagai markas komando.
“Klaim Israel hanyalah dalih untuk membenarkan serangan terhadap warga sipil dan fasilitas medis,” demikian pernyataan Hamas
Kontroversi Serangan ke Rumah Sakit
Serangan terhadap Rumah Sakit Eropa memicu kecaman keras dari berbagai pihak. Kantor media Gaza menyebut serangan ini sebagai “pembantaian mengerikan” dan menuduh Israel sengaja menargetkan warga sipil, termasuk pekerja kemanusiaan di area pengungsian.
Mereka juga mendesak Mahkamah Internasional (ICJ) untuk menyelidiki dugaan kejahatan perang yang dilakukan Israel.
Di sisi lain, Israel bersikukuh bahwa operasi mereka dilakukan dengan presisi untuk meminimalkan korban sipil. IDF bahkan merilis cuplikan video yang diklaim sebagai bukti adanya terowongan bawah tanah di lokasi tersebut. Namun, hingga berita ini ditulis, belum ada konfirmasi independen yang membuktikan keberadaan markas Hamas di rumah sakit.
Dampak bagi Hamas dan Gaza
Jika Muhammad Sinwar benar-benar tewas, ini bisa melemahkan struktur kepemimpinan Hamas, yang belum mengumumkan pengganti resmi sejak kematian Yahya Sinwar. Beberapa pejabat Israel optimistis, menyatakan bahwa eliminasi Sinwar dapat mempermudah negosiasi gencatan senjata.
“Sinwar adalah figur paling ekstrem dalam posisi negosiasi,” ujar seorang pejabat Israel kepada The Jerusalem Post.
Namun, di sisi lain, serangan ini juga memperburuk situasi kemanusiaan di Gaza. Blokade Israel yang telah berlangsung selama 71 hari terus menghambat masuknya bantuan, sementara serangan berulang membuat warga sipil semakin terjepit.
Hamas, meski tertekan, tetap menunjukkan komitmen untuk mematuhi gencatan senjata yang ditengahi Mesir, Qatar, dan Amerika Serikat, sembari mendesak mediator untuk menekan Israel.
Klaim Israel atas kematian Muhammad Sinwar masih menunggu konfirmasi resmi. Sementara itu, dunia terus memantau perkembangan di Gaza, di mana ketegangan antara Israel dan Hamas belum menunjukkan tanda-tanda mereda.