JAKARTA – Polisi Israel menewaskan empat anggota keluarga Palestina di Tamoun, Tepi Barat, termasuk dua anak laki-laki berusia lima dan tujuh tahun, saat mereka kembali dari belanja Ramadan. Mohammed (5), Othman (7) yang buta dan memiliki kebutuhan khusus, serta orang tua mereka, Waad Bani Odeh (35) dan Ali Bani Odeh (37), ditembak di kepala dan wajah ketika mobil keluarga itu dihujani peluru pada Sabtu malam (14/3/2026).
Menurut data PBB, sejak 2019 pasukan Israel telah menewaskan lebih dari 1.400 warga Palestina, termasuk 320 anak-anak. Kelompok HAM Israel Yesh Din mencatat bahwa dakwaan pembunuhan terakhir terhadap pasukan Israel terjadi enam tahun lalu.
Dilansir dari The Guardian, Senin (16/3/2026), keluarga Bani Odeh tewas hanya beberapa jam setelah pemukim Israel menembak mati Amir Moatasem Odeh (28) di Qusra, selatan Nablus, dan menikam ayahnya. Kekerasan terhadap warga sipil Palestina meningkat tajam sejak pecahnya perang AS–Israel melawan Iran pada akhir Februari.
Khaled (11), anak tertua yang selamat, mengatakan ia mendengar ibunya menangis dan ayahnya berdoa sebelum tewas. Ia juga mengaku diseret keluar mobil dan dipukuli oleh polisi perbatasan Israel. “Kami membunuh anjing,” salah satu pelaku mengejeknya, dikutip Reuters.
Kementerian Luar Negeri Palestina menyebut insiden itu sebagai “tindakan eksekusi di luar hukum yang mengejutkan” dan bagian dari kampanye sistematis untuk memaksa pengusiran rakyat Palestina.
Polisi Israel berdalih keluarga tersebut tewas dalam operasi gabungan dengan militer karena kendaraan mereka dianggap menimbulkan “ancaman langsung.” Namun, tidak ada penangkapan yang dilakukan, dan pihak berwenang menolak menjelaskan lebih lanjut.
Serangan udara Israel di Gaza pada hari yang sama menewaskan 12 orang, termasuk seorang wanita hamil bersama suami dan anaknya, serta seorang perwira polisi senior dengan delapan anggota timnya.