TEL AVIV, ISRAEL – Tentara Pertahanan Israel (IDF) meningkatkan level kesiagaan di sejumlah unit kunci, termasuk Angkatan Udara, Dinas Intelijen Militer (Aman), dan Komando Utara. Langkah ini diambil sebagai respons atas laporan mengenai kemungkinan serangan militer Amerika Serikat terhadap Iran, di tengah eskalasi protes anti-pemerintah yang terus bergolak di negara tersebut sejak akhir Desember 2025.
Menurut laporan harian Maariv yang mengutip sumber militer Israel, peningkatan siaga ini difokuskan pada pemantauan ketat perkembangan di Iran. “Tentara Israel terus memantau perkembangan di Iran di tengah kekhawatiran bahwa militer AS mungkin melancarkan serangan terhadap Teheran,” tulis surat kabar tersebut.
Meski demikian, belum ada keputusan untuk mengubah tingkat kesiapan di front dalam negeri atau wilayah sipil. IDF saat ini berkoordinasi erat dengan Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) terkait berbagai skenario potensial serangan terhadap Iran.
Analis militer Israel menilai langkah ini sebagai persiapan menghadapi kemungkinan retaliasi Iran yang dapat menargetkan Israel, termasuk melalui serangan rudal atau aksi kelompok proksi seperti Hizbullah dan Houthi.
Kekhawatiran tersebut muncul seiring protes massal di Iran yang dipicu krisis ekonomi parah, seperti inflasi tinggi dan penurunan tajam nilai mata uang. Demonstrasi yang awalnya menuntut perbaikan ekonomi kini berkembang menjadi tuntutan perubahan rezim, menjadikannya salah satu tantangan terbesar bagi pemerintahan Teheran sejak Revolusi Islam 1979.
Pemerintah Iran menuduh Amerika Serikat dan Israel sebagai dalang di balik apa yang mereka sebut sebagai “kerusuhan” dan “terorisme” yang memicu gelombang demonstrasi. Hingga kini, belum ada data korban resmi dari pemerintah Iran. Namun, kelompok hak asasi manusia Human Rights Activists News Agency (HRANA) yang berbasis di Amerika Serikat memperkirakan jumlah korban tewas telah melampaui 2.000 orang, termasuk demonstran, aparat keamanan, dan warga sipil. Estimasi terbaru HRANA bahkan menyebut angka korban mencapai lebih dari 2.500 orang, dengan ribuan lainnya ditangkap.
Situasi kian memanas setelah Presiden AS Donald Trump berulang kali menyatakan dukungannya kepada para pengunjuk rasa dan mengancam akan mengambil tindakan keras jika rezim Iran terus melakukan penindasan berdarah. Pejabat Iran, termasuk Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf, memperingatkan bahwa setiap serangan AS akan menjadikan basis militer Washington dan Israel sebagai “target sah”.
Pakar keamanan menilai peningkatan kesiagaan Israel mencerminkan tingginya ketegangan regional. Potensi aksi militer AS dinilai dapat memicu respons luas dari Iran, termasuk serangan balasan ke wilayah Israel. Meski belum ada indikasi serangan langsung dalam waktu dekat, koordinasi antara IDF dan CENTCOM menunjukkan kesiapan menghadapi berbagai skenario, baik defensif maupun ofensif.
Perkembangan ini terus dipantau secara ketat karena setiap kesalahan perhitungan berisiko memicu eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.