Jakarta kembali bergulat dengan ancaman banjir tahunan yang hingga kini belum menemukan solusi tuntas. Dalam diskusi bertajuk “Mengurai Banjir Jakarta Berbasis Riset” pada Rabu (4/2), peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Budi Heru Santosa, memaparkan tiga faktor utama yang menjadi pemicu kronis banjir di ibu kota, yakni penurunan permukaan tanah, curah hujan ekstrem, serta infrastruktur drainase dan sungai yang belum berfungsi optimal.
“Jakarta saat ini menghadapi tekanan yang sangat berat akibat persoalan multidimensi yang saling berkelindan,” ujar Budi dalam paparannya di Gedung BJ Habibie, Jakarta Pusat.
Jakarta Terus Tenggelam
Berdasarkan hasil pengolahan citra satelit, sejumlah wilayah Jakarta mengalami penurunan muka tanah lebih dari 10 sentimeter per tahun. Fenomena ini dipicu oleh dua faktor utama, yakni karakter alami tanah aluvial yang mudah terkompaksi serta eksploitasi air tanah secara berlebihan oleh rumah tangga maupun pelaku usaha.
Budi menjelaskan, meningkatnya kebutuhan air bersih mendorong masyarakat menyedot air tanah dalam jumlah besar lantaran jaringan air perpipaan belum menjangkau seluruh wilayah secara merata. Riset BRIN menunjukkan, penyedotan ini menyebabkan rongga pada lapisan tanah kehilangan air, sehingga memicu pemampatan tanah secara bertahap.
Kondisi paling parah ditemukan di kawasan pesisir utara Jakarta, meliputi Jakarta Utara, Jakarta Barat, dan sebagian Jakarta Pusat.
Budi mengibaratkan Jakarta seperti mangkuk raksasa (bowl effect)—permukaan daratan lebih rendah dari muka laut dan dikelilingi tanggul. Akibatnya, air hujan yang masuk sulit mengalir keluar tanpa bantuan pompa.
Drainase Tersumbat dan Lahan Kian Tertutup
Masalah banjir diperparah oleh keterbatasan infrastruktur drainase. Pendangkalan sungai dan penumpukan sampah membuat saluran air kehilangan kapasitas tampung saat hujan deras, sehingga air meluap ke permukiman.
Selain itu, alih fungsi lahan akibat masifnya pembangunan perumahan dan gedung turut memperburuk daya resap tanah. Lahan terbuka hijau yang dahulu berfungsi menyerap air kini tertutup bangunan, atap, dan lapisan semen, menyebabkan air hujan langsung mengalir ke saluran yang sudah terbebani.
Sebagai respons, Gubernur Jakarta Pramono Anung menginstruksikan normalisasi tiga sungai utama, yakni Ciliwung, Krukut, dan Cakung Lama, sebagai solusi jangka menengah hingga panjang. Proyek normalisasi Sungai Ciliwung yang sempat terhenti sejak 2017 kini kembali dilanjutkan dan ditargetkan rampung pada 2026.