VATIKAN – Seruan keras datang dari Paus Leo XIV yang secara terbuka meminta Presiden Amerika Serikat Donald Trump segera menemukan solusi konkret untuk menghentikan perang Iran yang kian meluas dan memicu krisis global.
Pernyataan tersebut menjadi sorotan karena disampaikan langsung oleh Paus dalam momen yang jarang terjadi, sekaligus mencerminkan kekhawatiran mendalam Vatikan terhadap eskalasi konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Paus menegaskan pentingnya langkah nyata dari Trump setelah sebelumnya menyatakan keinginan mengakhiri perang, dengan harapan besar bahwa upaya tersebut tidak sekadar retorika, melainkan benar-benar diwujudkan melalui kebijakan yang mampu meredam kekerasan.
“Saya diberi tahu bahwa Presiden Trump baru-baru ini menyatakan ingin mengakhiri perang. Mudah-mudahan ia sedang mencari jalan keluar, semoga ia mencari cara untuk mengurangi tingkat kekerasan,” katanya.
Pernyataan itu disampaikan kepada awak media di luar kediaman musim panasnya di Castel Gandolfo, dekat Roma, dengan nada penuh harap agar konflik segera menemukan titik akhir.
Tekanan moral dari Paus semakin kuat setelah sebelumnya pada 29 Maret 2026 ia melontarkan kritik tajam terhadap para pemimpin dunia yang memicu peperangan, bahkan menyebut bahwa doa mereka tidak akan diterima oleh Tuhan.
Dalam pernyataannya yang tegas, Paus juga menyindir para pemimpin tersebut dengan ungkapan bahwa mereka memiliki “tangan penuh darah”, sebagai simbol tanggung jawab atas korban jiwa yang terus bertambah.
Konflik Iran sendiri telah berlangsung sejak 28 Februari 2026 ketika Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan yang kemudian memicu eskalasi besar di kawasan Timur Tengah.
Dalam perkembangannya, perang tidak hanya terbatas pada satu wilayah, tetapi meluas dan menyeret berbagai pihak sehingga menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar, termasuk warga sipil.
Dampak konflik juga menjalar ke sektor global dengan terganggunya pasokan energi dunia yang berujung pada ancaman serius terhadap stabilitas ekonomi internasional.
Situasi tersebut memicu kekhawatiran luas karena efek domino yang ditimbulkan tidak hanya dirasakan di kawasan konflik, tetapi juga negara-negara lain yang bergantung pada distribusi energi global.
Menjelang perayaan Paskah pada 5 April 2026, Paus kembali menegaskan harapannya agar kekerasan dapat segera dihentikan demi menyelamatkan lebih banyak nyawa.
“(Paskah) seharusnya menjadi waktu paling suci dan sakral dalam setahun. Ini adalah waktu damai, waktu untuk banyak refleksi, namun seperti yang kita semua ketahui, sekali lagi di dunia, di begitu banyak tempat, kita menyaksikan begitu banyak penderitaan, begitu banyak kematian, bahkan anak-anak yang tidak bersalah.”
“Kami terus-menerus menyerukan perdamaian, tetapi sayangnya banyak orang justru ingin menyebarkan kebencian, kekerasan, dan perang,” tegas Paus.
Oleh karena itu, ia meminta semua orang, “terutama umat Kristiani,” untuk “menjalani hari-hari ini dengan menyadari bahwa Kristus masih disalibkan hari ini, bahwa Kristus masih menderita hari ini dalam diri orang-orang tak bersalah, khususnya mereka yang menderita akibat kekerasan, kebencian, dan perang.”
“Mari kita berdoa bagi mereka, bagi para korban perang. Mari kita berdoa agar benar-benar terwujud perdamaian yang baru dan diperbarui, yang dapat memberi kehidupan baru bagi semua,” seru Paus Leo.
Menanggapi pertanyaan para jurnalis, ia juga menyampaikan harapannya agar gencatan senjata dapat diberlakukan selama Paskah.
Ia menilai bahwa terlalu banyak pihak yang justru mendorong eskalasi konflik, sehingga diperlukan komitmen bersama untuk mengakhiri perang dan mengedepankan perdamaian.
Paus juga menekankan bahwa dunia saat ini membutuhkan langkah cepat dan nyata, bukan sekadar wacana, untuk menghentikan pertumpahan darah yang terus berlangsung.
Seruan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa konflik berkepanjangan hanya akan memperparah penderitaan manusia dan memperbesar risiko krisis global yang lebih luas.***