TOYOAKE, JEPANG – Pemerintah Kota Toyoake, Jepang, mengusulkan aturan untuk membatasi penggunaan smartphone dan perangkat elektronik lainnya hanya dua jam sehari di luar aktivitas kerja atau sekolah. Aturan ini bertujuan mengurangi dampak negatif screen time berlebihan, seperti gangguan tidur dan kurangnya interaksi keluarga, dan akan berlaku mulai Oktober 2025 tanpa sanksi bagi pelanggar.
Aturan Pertama di Jepang
Menurut pejabat setempat, kebijakan ini menjadi yang pertama di Jepang yang menyasar seluruh warga, bukan hanya anak-anak. Rancangan aturan merekomendasikan siswa sekolah dasar berhenti menggunakan perangkat elektronik setelah pukul 21.00, sementara siswa SMP hingga pukul 22.00.
“Ponsel pintar sangat praktis dan penting dalam kehidupan kita sehari-hari. Masyarakat keliru mengira peraturan ini akan mengikat penduduk pada batasan 2 jam. Padahal, batasan 2 jam ini merupakan pedoman untuk mendorong masyarakat mempertimbangkan kembali jam tidur mereka dan hal-hal lain seperti hubungan mereka dengan anggota keluarga,” ungkap Wali Kota Toyoake, Kouki Masafumi, menanggapi kritik warga.
Kekhawatiran akan Kesehatan dan Interaksi Sosial
Usulan ini muncul seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap efek jangka panjang penggunaan smartphone, tablet, hingga konsol game.
Studi Badan Anak dan Keluarga Jepang menunjukkan remaja di negara ini menghabiskan rata-rata lebih dari lima jam per hari daring pada hari sekolah, memicu gangguan tidur, penurunan komunikasi keluarga, hingga hambatan perkembangan anak. Pemerintah Toyoake berharap kebijakan ini mendorong gaya hidup sehat dan interaksi yang lebih bermakna di antara warga.
Reaksi Warga: Antara Dukungan dan Penolakan
Meski bertujuan positif, usulan ini menuai pro dan kontra. Survei awal menunjukkan 70% warga menentang aturan tersebut, menyebutnya tidak realistis di era digital. “Dua jam itu tidak mungkin.
Bahkan untuk membaca buku atau menonton film saja tidak cukup,” tulis seorang warganet di platform X. Dalam empat hari pasca-pengumuman, pemerintah kota menerima 83 telepon dan 44 email, 80% di antaranya berisi kritik. Namun, sebagian warga mendukung, terutama orang tua yang khawatir akan kecanduan gadget pada anak-anak.
Langkah Global dalam Membatasi Screen Time
Toyoake bukan yang pertama mengatur screen time. Pada 2020, Prefektur Kagawa membatasi waktu bermain game anak-anak menjadi satu jam per hari pada hari sekolah dan 90 menit saat libur. Swedia bahkan melarang screen time untuk balita di bawah dua tahun, sesuai panduan WHO.
Sementara itu, Indonesia mencatatkan rekor screen time tertinggi dunia dengan rata-rata 5,7 jam per hari, memicu kekhawatiran serupa terkait kesehatan mental dan fisik.
Menuju Diskusi Nasional
Rancangan aturan ini masih menunggu persetujuan dewan kota pada akhir September 2025. Terlepas dari hasilnya, usulan Toyoake telah memicu diskusi nasional tentang keseimbangan teknologi dan kesehatan di era digital.