JAKARTA – Kapal perusak Angkatan Laut Amerika Serikat USS Benfold mengalami kehilangan daya total selama empat hari saat beroperasi di Laut China Selatan.
Insiden tersebut terjadi ketika USS Benfold berlayar bersama kelompok tempur kapal induk USS George Washington pada 24 Juli.
Juru bicara Armada ke-7 AS, Cmdr. Matthew Comer, menyebut gangguan itu berkaitan dengan kerusakan teknis pada sistem generator kapal.
Matinya seluruh pasokan listrik membuat awak kapal menghadapi kondisi sulit tanpa air minum layak, makanan, toilet berfungsi, dan pendingin udara.
Angkatan Laut AS belum menjelaskan secara terbuka alasan insiden tersebut baru diketahui publik setelah beberapa waktu berlalu.
Kondisi itu menambah perhatian terhadap kesiapan operasional armada AS yang tengah menghadapi tingginya tuntutan misi militer.
Sejumlah kapal perang AS disebut menjalani pengerahan lebih lama dari rencana akibat kebutuhan operasi di berbagai kawasan.
Mengutip laporan The Washington Post, Selasa (18/8/2026), USS Benfold akhirnya ditarik menuju pelabuhan di Filipina dengan bantuan kapal lain dalam kelompok tempurnya.
Kapal penjelajah USS Robert Smalls turut membantu menyediakan makanan bagi para awak USS Benfold selama proses penarikan berlangsung.
Sesampainya di Filipina, para pelaut ditempatkan di akomodasi yang disediakan kontraktor serta mendapatkan makanan di luar kapal.
“Tidak ada awak yang mengalami cedera, dan mereka menunjukkan ketangguhan, keberanian, profesionalisme, serta ketenangan yang tidak tergoyahkan,” kata Comer.
Pasokan listrik USS Benfold dilaporkan kembali normal pada 30 Juli setelah sistem kapal berhasil diperbaiki.
Kapal tersebut kemudian kembali menjalankan operasi sekitar sepekan setelah daya listrik dipulihkan.
Belum ada kepastian apakah USS Benfold tetap bergabung dengan kelompok tempur USS George Washington atau kembali menuju pangkalannya di Jepang.
Insiden tersebut sebelumnya dilaporkan USNI News dan kemudian mendapat perhatian karena terjadi di tengah meningkatnya beban operasi armada AS.
USS George Washington diketahui sedang diarahkan menuju kawasan Timur Tengah untuk menggantikan kapal induk USS Abraham Lincoln.
USS Abraham Lincoln sebelumnya menjadi sorotan akibat laporan mengenai penurunan moral awak serta persoalan makanan dan sanitasi.
Kapal induk tersebut telah berada di laut selama lebih dari 200 hari dalam rangka menjalankan misi berkepanjangan.
Tekanan terhadap armada AS juga meningkat akibat pengerahan kapal perang untuk berbagai operasi keamanan di kawasan Amerika Latin.
Sejumlah kapal AS sebelumnya dikerahkan ke Karibia untuk mendukung operasi terhadap jaringan perdagangan narkotika di kawasan tersebut.
Armada AS juga disebut mengerahkan lebih dari selusin kapal untuk menjalankan blokade Venezuela dan menyerang kapal yang diduga membawa narkotika.
Di Timur Tengah, puluhan kapal perang turut digunakan dalam operasi militer AS terkait konflik dengan Iran dan pengamanan jalur maritim.
Pengerahan berkepanjangan tersebut menimbulkan kekhawatiran karena jadwal pemeliharaan sejumlah kapal harus ditunda.
Masalah serupa sebelumnya terjadi pada USS Gerald R. Ford yang mengalami kebakaran dan gangguan sistem toilet sebelum dipulangkan ke Norfolk.
USS Gerald R. Ford kembali ke pangkalan setelah menjalani pengerahan lebih dari 300 hari di kawasan operasi.
Rangkaian persoalan tersebut memperlihatkan tantangan besar yang dihadapi Angkatan Laut AS dalam mempertahankan kesiapan armada.***




