JAKARTA β Real Madrid harus mengubah rencana setelah Rodri disebut memilih Barcelona sebagai tujuan berikutnya dalam bursa transfer.
Kepindahan tersebut membuat Madrid kembali menghadapi pekerjaan besar untuk membangun ulang lini tengah setelah era Toni Kroos dan Luka Modric.
Rodri sebelumnya sempat dipandang sebagai kandidat ideal untuk mengisi kekosongan tersebut karena pengalaman serta kualitasnya sebagai gelandang bertahan.
Namun, situasi berubah setelah Barcelona dikabarkan mencapai kesepakatan senilai 76,5 juta euro atau sekitar Rp1,59 triliun.
Kini, perhatian Real Madrid disebut kembali mengarah kepada gelandang muda AZ Alkmaar, Kees Smit, yang dinilai memiliki profil menarik untuk proyek jangka panjang.
Mengutip laporan Sport Illustrated, Selasa (18/8/2026), Smit yang masih berusia 20 tahun telah mencuri perhatian berkat kemampuan bermain di berbagai posisi sepanjang lini tengah.
Berbeda dari Rodri yang identik dengan peran gelandang bertahan, Smit mempunyai karakter permainan yang lebih fleksibel dan agresif.
Pemain asal Belanda itu mampu beroperasi sebagai gelandang bertahan, gelandang tengah hingga pemain yang lebih dekat dengan lini serang.
Fleksibilitas tersebut membuat Smit dianggap memiliki kemiripan dengan karakter permainan Bernardo Silva dibandingkan sebagai pengganti langsung Rodri.

Bernardo Silva sendiri pernah menjalani perubahan peran di Manchester City, dari gelandang serang hingga tampil lebih dalam ketika kebutuhan tim menuntutnya.
Profil serbaguna seperti itu disebut menarik perhatian pelatih Jose Mourinho yang menginginkan pemain mampu menjalankan lebih dari satu fungsi di lapangan.
Di Real Madrid, Bernardo juga diproyeksikan menjadi pemain penting untuk menjaga keseimbangan permainan setelah kegagalan mendapatkan Rodri.
Namun, usia Bernardo yang sudah 32 tahun membuat Madrid tetap membutuhkan pemain muda yang dapat menjadi bagian dari regenerasi lini tengah.
Kees Smit dianggap bisa menjadi salah satu opsi karena memiliki energi, kemampuan mengalirkan bola dan keberanian membawa permainan menuju area pertahanan lawan.
Gaya tersebut membuat Smit lebih dekat dengan karakter Toni Kroos atau Luka Modric dalam hal orientasi permainan yang selalu berusaha menggerakkan bola ke depan.
Meski demikian, merekrut Smit jelas mengandung risiko lebih besar karena pengalamannya masih terbatas di kompetisi kasta tertinggi Belanda.
Smit juga belum membuktikan kemampuannya secara konsisten ketika menghadapi tekanan dan intensitas kompetisi yang lebih tinggi di luar Eredivisie.
Namun, perkembangan performanya membuat sejumlah pemandu bakat menilai pemain muda tersebut memiliki potensi untuk beradaptasi dengan level permainan yang lebih berat.
Kehadiran Smit tidak akan serta-merta menghapus kekecewaan Real Madrid setelah kehilangan peluang merekrut Rodri.
Akan tetapi, perekrutan gelandang muda tersebut dapat memberikan energi baru sekaligus membuka jalan bagi regenerasi lini tengah Madrid dalam jangka panjang.
Jika berkembang sesuai ekspektasi, Smit berpeluang menjadi bagian penting dari proyek Real Madrid untuk membangun kembali kekuatan lini tengah.**




