JAKARTA – Kapten tim sepak bola wanita Iran, Zahra Ghanbari, meninggalkan Australia setelah menarik kembali permohonan suakanya. Keputusan ini menjadikannya anggota kelima dari kelompok pemain yang semula menerima tawaran tinggal di Australia usai Piala Asia, namun kemudian memilih kembali ke Iran atau bergabung dengan rekan lain di Malaysia.
Menteri Dalam Negeri Australia, Tony Burke, mengonfirmasi bahwa sejumlah anggota tim meninggalkan Australia pada Minggu malam. Ia menekankan bahwa pemerintah telah memberikan kesempatan berulang kali bagi para pemain untuk mempertimbangkan pilihan mereka. “Meskipun pemerintah Australia dapat memastikan bahwa peluang diberikan dan dikomunikasikan, kita tidak dapat menghilangkan konteks di mana para pemain membuat keputusan yang sangat sulit ini,” ujarnya, dilansir dari The Guardian, Senin (16/3/2026).
Aktivis hak asasi manusia sekaligus mantan pemain futsal Iran, Shiva Amini, menuding Korps Garda Revolusi Iran menekan keluarga para pemain agar mereka kembali. Ia menyebut keluarga Zahra Ghanbari menjadi sasaran eksplisit. “Sejumlah pemain masih berada di sana. Mereka berada di bawah tekanan yang sangat besar dan mereka sangat membutuhkan dukungan dan perlindungan,” katanya.
Media pemerintah Iran memanfaatkan kepulangan para pemain sebagai propaganda. Kantor Berita Tasnim menyebut keputusan mereka sebagai “kemenangan besar yang mewujudkan patriotisme dan pengabdian tanpa batas kepada Iran.” Laporan itu juga menilai kepulangan para pemain sebagai “pukulan telak bagi presiden AS” setelah Donald Trump sebelumnya mendesak Australia menerima mereka.
Kekhawatiran muncul atas keselamatan para pemain yang kembali ke Iran, terutama setelah mereka dicap sebagai “pengkhianat masa perang” oleh media pemerintah karena menolak menyanyikan lagu kebangsaan sebelum pertandingan pembuka.