KYIV, UKRAINA — Anggota kartel narkoba asal Kolombia dan Meksiko diduga ikut bergabung dalam Legiun Internasional Ukraina untuk mendapatkan pengalaman tempur, khususnya dalam penggunaan pesawat nirawak atau drone di medan perang.
Keterlibatan tersebut mencuat di tengah semakin dominannya penggunaan drone dalam perang Rusia-Ukraina. Personel yang memiliki latar belakang kelompok kejahatan terorganisir diduga memanfaatkan konflik di Eropa Timur untuk mempelajari taktik pertempuran jarak jauh sekaligus meningkatkan kemampuan pengoperasian drone.
Laporan Al Jazeera pada Selasa (6/10/2026) menyebut keterlibatan jaringan kriminal internasional itu bukan semata-mata berkaitan dengan motif ekonomi. Perang di Ukraina dinilai menjadi ruang bagi sejumlah personel dari Amerika Latin untuk memperoleh pengalaman langsung dalam peperangan modern.
Dugaan tersebut turut mencuat setelah sebuah video yang memperlihatkan sejumlah pria berseragam militer di kawasan pegunungan dan hutan beredar luas di media sosial. Dalam rekaman itu, mereka menghadap kamera sambil meneriakkan yel-yel dukungan untuk Ukraina, Meksiko, Kolombia, hingga Panama.
Video tersebut diunggah oleh akun media sosial @VivoenMarte2. Dalam keterangannya, akun itu mengeklaim para personel militer asal Amerika Latin yang berada di Ukraina sempat menyampaikan salam kepada dua kelompok kartel besar di Meksiko, yakni Kartel Generasi Baru Jalisco atau CJNG dan La Chapizza, yang disebut sebagai salah satu faksi utama Kartel Sinaloa.
Unggahan itu juga menyebut kelompok-kelompok yang selama ini berseberangan di Meksiko dapat berada dalam posisi yang sama ketika berada di luar negeri. Mereka disebut bersekutu untuk menghadapi musuh bersama yang beroperasi di Meksiko, yakni kelompok Los Mayos-Cabreras.
Meski demikian, keabsahan video tersebut masih belum terverifikasi secara independen. Identitas orang-orang yang terlihat dalam rekaman serta klaim mengenai keterkaitan mereka dengan organisasi kartel juga masih memerlukan konfirmasi lebih lanjut.
Keterlibatan warga Amerika Latin dalam perang Rusia-Ukraina sebelumnya memang telah menjadi sorotan. Mantan Presiden Kolombia Gustavo Petro pernah mengungkapkan perkiraan bahwa sedikitnya 7.000 warga negaranya pergi ke zona konflik untuk bertempur sebagai tentara bayaran dengan alasan ekonomi.
Jumlah tersebut sejalan dengan hasil investigasi media Ukraina, NV. Media tersebut melaporkan sekitar 7.000 warga Kolombia telah bergabung untuk memperkuat barisan pertahanan Kyiv sejak Rusia melancarkan invasi skala besar pada 2022.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa keterlibatan warga Amerika Latin dalam konflik Ukraina bukan perkara baru. Namun, dugaan masuknya anggota jaringan kartel dengan tujuan memperoleh pengalaman perang dan keterampilan menggunakan drone menambah dimensi lain dalam keterlibatan kelompok kriminal dalam konflik bersenjata tersebut.