JAKARTA – Kejaksaan Agung (Kejagung) tengah menyelidiki sosok di balik pembentukan Grup WhatsApp bernama Mas Menteri Core Team, yang diduga menjadi embrio dalam skandal korupsi pengadaan laptop Chromebook di Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).
Kasus ini menjadi sorotan publik, mengingat program digitalisasi pendidikan yang sebelumnya digembar-gemborkan sebagai inovasi unggulan kini malah tersandung masalah hukum.
Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung, Anang Supriatna, menyatakan bahwa tim penyidik dari Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) masih menelusuri siapa yang pertama kali menggagas grup tersebut.
“Masih dalam proses pendalaman (otak penginisiasi pembuatan Grup WhatsApp Mas Menteri Core Team),” ujar Anang kepada awak media pada Rabu (16/7/2025).
Menurut hasil penyidikan sementara, grup WhatsApp itu dibuat untuk mendukung program digitalisasi di Kemendikbudristek. Namun yang mengejutkan, grup tersebut sudah dibentuk bahkan sebelum Nadiem Makarim resmi dilantik sebagai menteri.
“Memang dari keterangan yang diperoleh bahwa ada pembuatan grup WA dilakukan sebelum NM dilantik menjadi menteri. Sementara bahwa itu hanya untuk kegiatan nanti ke depannya untuk digitalisasi di Kemendikbud,”imbuh Anang.
Dugaan Korupsi dan Latar Belakang Kasus
Skandal ini bermula dari pengadaan Chromebook yang seharusnya menjadi bagian dari percepatan transformasi digital di dunia pendidikan. Namun, penyidik menemukan indikasi penyimpangan dalam proses pengadaan, yang berpotensi menyebabkan kerugian besar bagi keuangan negara.
Grup WhatsApp Mas Menteri Core Team disebut sebagai ruang koordinasi awal yang diduga tidak hanya membahas rencana digitalisasi, tetapi juga menjadi titik mula praktik korupsi berjamaah. Saat ini, Kejagung fokus mengungkap peran-peran kunci dalam grup tersebut, termasuk kemungkinan adanya pengaruh kekuasaan dan konflik kepentingan.
Proses Penyidikan dan Reaksi Publik
Publik terus mengikuti perkembangan kasus ini, terutama karena digitalisasi pendidikan adalah program prioritas nasional. Dugaan bahwa proyek besar ini justru dijadikan ladang korupsi menimbulkan keprihatinan luas di masyarakat.
Anang menegaskan, Kejagung akan terus menggali keterangan saksi dan bukti digital yang berkaitan dengan grup *Mas Menteri Core Team*.
“Kami terus bekerja untuk memastikan semua pihak yang terlibat dapat diidentifikasi dan diproses sesuai hukum,” tegasnya.
Catatan Penutup, Transparansi dan Reformasi Diperlukan
Penyelidikan intensif yang dilakukan Kejagung ini diharapkan mampu menjawab pertanyaan publik terkait integritas program digitalisasi pendidikan. Lebih dari sekadar kasus korupsi, perkara ini menyentuh aspek kepercayaan masyarakat terhadap pengelolaan anggaran pendidikan yang seharusnya berpihak pada siswa dan tenaga pendidik.
Dengan penelusuran yang kini menyasar ke lingkaran inti pengambil keputusan, termasuk siapa yang memulai pembentukan grup WhatsApp Mas Menteri Core Team, Kejagung dituntut untuk bersikap transparan dan profesional.