JAKARTA – Kementerian Pekerjaan Umum mempercepat pemulihan infrastruktur di Sumatra Utara pascabanjir dan longsor akibat siklon senyar yang melanda sejumlah wilayah strategis, khususnya di Tapanuli Tengah dan Kota Sibolga.
Respons cepat ini digerakkan melalui perbaikan jalan, jembatan, hingga layanan dasar yang menjadi urat nadi aktivitas masyarakat terdampak.
Menteri PU, Dody Hanggodo, menegaskan bahwa percepatan penanganan menjadi perhatian utama pemerintah pusat.
“Kondisi di Sumatra Utara membutuhkan respons cepat dan terukur, dan keselamatan warga adalah prioritas utama,” ungkapnya.
Gangguan cuaca ekstrem akibat Siklon Tropis Senyar pada akhir November memicu curah hujan sangat tinggi yang kemudian melahirkan banjir, longsor, serta kerusakan fasilitas publik di banyak titik.
Upaya darurat dilakukan serentak di seluruh jalur kritis guna memastikan akses transportasi dan layanan publik tidak lumpuh berkepanjangan.
Direktur Jenderal Bina Marga, Roy Rizali Anwar, menyampaikan perkembangan teknis di lapangan dengan menyebut bahwa dari 171 titik longsor yang dilaporkan, sebanyak 163 titik kini sudah ditangani.
Ia menambahkan bahwa dari 27 lokasi putus total, 10 titik telah pulih dan dari 38 titik jalan amblas sebagian, 18 titik telah rampung seiring meredanya banjir di 28 titik lainnya.
Roy menegaskan bahwa di ruas prioritas sekitar 60 kilometer, masih tersisa 12 kilometer dengan tujuh titik pekerjaan yang kini dikebut dan mengatakan, “Pekerjaan dilakukan dari dua arah, baik dari Sibolga maupun Tarutung, agar konektivitas segera pulih.”
Kementerian PU turut menyiapkan rute alternatif, penimbunan darurat, hingga pemasangan jembatan bailey di lokasi dengan kerusakan berat untuk menjaga arus logistik serta mobilitas masyarakat.
Di sektor permukiman, Direktur Jenderal Cipta Karya, Dewi Chomistriana, memastikan layanan dasar terus diperkuat.
“Kami telah memasang 13 hidran umum, menyiapkan tiga mobil tangki air, dan mengoperasikan IPA sementara berkapasitas 0,8 liter per detik,” tutur Dewi.
Dewi mengungkapkan bahwa distribusi bahan kimia seperti PAC dan kaporit dilakukan untuk menjaga kualitas air bersih sembari mengecek kerusakan pada intake, transmisi, serta jaringan air minum.
Pada saat yang sama, Ketua Komisi V DPR RI, Lasarus, menyoroti pentingnya memperbaiki kondisi pengungsian agar memenuhi standar kebutuhan dasar bagi warga terdampak bencana.
Ia juga meminta masyarakat tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan longsor susulan selama pemulihan masih berlangsung.
Lasarus menggambarkan kondisi lapangan yang ia saksikan langsung. “Sepanjang jalan dari bandara hingga Sibolga, saya melihat masih banyak titik longsor yang rawan,” tegasnya.
Ia kemudian menegaskan bahwa fasilitas pengungsian yang ia lihat belum layak dan membutuhkan penanganan cepat serta menyampaikan, “Kondisi pengungsian masih jauh dari layak dan perlu segera dibenahi.”***
