JAKARTA — Di balik ketegasan dan reputasinya sebagai salah satu tokoh militer paling berpengaruh di Indonesia, almarhum Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu meninggalkan warisan kepemimpinan yang terus dikenang oleh para prajurit dan koleganya. Salah satu nilai yang paling membekas adalah cara pandangnya terhadap keberhasilan dan kegagalan dalam menjalankan tugas negara.
Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin mengungkapkan, Ryamizard memiliki prinsip yang sederhana namun kuat dalam memimpin pasukan. Baginya, keberhasilan sebuah misi merupakan hasil kerja para prajurit, sementara kegagalan harus menjadi tanggung jawab penuh seorang komandan.
Prinsip tersebut, menurut Sjafrie, menjadi cerminan karakter kepemimpinan yang langka dan menjadi alasan mengapa Ryamizard begitu dihormati di lingkungan TNI.
“Kesan khusus yang saya ingat adalah, apabila suatu tugas berhasil dilaksanakan, maka yang dianggap berhasil adalah para prajurit. Bukan komandannya yang berhasil,” ujar Sjafrie saat mengenang sosok almarhum.
Pernyataan itu menggambarkan bagaimana Ryamizard memandang peran seorang pemimpin. Alih-alih menempatkan diri sebagai pusat keberhasilan organisasi, mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat tersebut justru memberikan ruang penghargaan yang luas kepada anggota yang berada di garis depan pelaksanaan tugas.
Menurut Sjafrie, sikap tersebut menunjukkan kerendahan hati sekaligus kepercayaan besar kepada prajurit yang menjalankan berbagai operasi dan penugasan di lapangan.
Dalam berbagai kesempatan, Ryamizard dikenal tidak pernah berlomba mencari pengakuan atas capaian institusi yang dipimpinnya. Ia meyakini keberhasilan sebuah misi lahir dari kerja kolektif seluruh anggota, bukan semata-mata hasil keputusan seorang komandan.
Namun filosofi itu tidak berhenti pada saat keberhasilan diraih. Ketika tugas menghadapi hambatan atau tidak mencapai target yang ditetapkan, Ryamizard justru mengambil posisi terdepan untuk mempertanggungjawabkannya.
“Namun apabila tugas tidak berhasil, maka komandanlah yang bertanggung jawab,” kata Sjafrie.
Bagi kalangan militer, prinsip tersebut merupakan fondasi penting dalam membangun kepemimpinan yang kuat. Seorang komandan tidak hanya dituntut mampu memberikan arahan dan strategi, tetapi juga memiliki keberanian moral untuk memikul konsekuensi dari setiap keputusan yang diambil.
Sjafrie menilai, pola pikir seperti itu semakin relevan di tengah tantangan organisasi modern yang menuntut akuntabilitas tinggi dari setiap pemimpin. Dalam situasi sulit, seorang pemimpin harus hadir di depan untuk bertanggung jawab, bukan justru mencari pihak yang dapat disalahkan.
Di sisi lain, Ryamizard selalu memastikan setiap keberhasilan menjadi kebanggaan bersama seluruh anggota yang terlibat dalam pelaksanaan tugas.
“Sebaliknya, jika tugas berhasil, keberhasilan tersebut merupakan hasil kerja para prajurit yang mendukung pelaksanaan tugas,” tuturnya.
Filosofi tersebut tidak hanya memperkuat hubungan antara komandan dan anak buah, tetapi juga membangun loyalitas serta rasa saling percaya di dalam organisasi. Para prajurit merasa dihargai karena kerja keras mereka mendapatkan pengakuan yang layak, sementara pemimpin menunjukkan keteladanan melalui keberanian mengambil tanggung jawab.
Warisan kepemimpinan inilah yang menurut Sjafrie menjadi salah satu peninggalan paling berharga dari almarhum Ryamizard bagi generasi penerus TNI. Nilai-nilai tersebut dinilai tetap relevan untuk dijadikan pedoman dalam membangun organisasi militer yang profesional, modern, dan berintegritas.
Selain dikenal tegas dalam mengambil keputusan, Ryamizard juga memiliki kedekatan yang kuat dengan para prajurit. Sepanjang karier militernya, ia dikenal kerap turun langsung ke lapangan untuk memahami kondisi nyata yang dihadapi anggota di daerah operasi maupun wilayah penugasan.
Kedekatan itu membuat sosoknya tidak hanya dihormati karena pangkat dan jabatan yang pernah disandang, tetapi juga karena keteladanan yang ditunjukkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai seorang perwira.
Bagi banyak prajurit, Ryamizard bukan sekadar komandan. Ia dikenang sebagai pemimpin yang memberikan penghormatan kepada anak buah ketika keberhasilan diraih, namun berdiri paling depan ketika harus mempertanggungjawabkan tugas yang belum mencapai hasil yang diharapkan.
Di tengah penghormatan yang terus mengalir setelah kepergiannya, prinsip kepemimpinan tersebut menjadi bagian dari jejak pengabdian Ryamizard Ryacudu untuk TNI dan bangsa Indonesia. Sebuah teladan bahwa kepemimpinan sejati bukan diukur dari banyaknya pujian yang diterima, melainkan dari keberanian memikul tanggung jawab ketika menghadapi ujian.