JAKARTA – Kepala Staf Pasukan Pertahanan Israel (IDF), Letnan Jenderal Eyal Zamir, menyatakan keyakinannya bahwa Amerika Serikat (AS) akan melancarkan operasi militer terhadap Iran dalam rentang waktu dua minggu hingga dua bulan mendatang. Pernyataan ini muncul di tengah eskalasi ketegangan regional yang semakin memanas.
“Ini adalah periode ketidakpastian,” bunyi siaran Army Radio, mengutip pernyataan Zamir dalam pertemuan penilaian situasi. Jenderal tertinggi Israel tersebut, lanjut Army Radio, mengatakan dia yakin serangan AS terhadap Teheran akan terjadi “dalam dua minggu hingga dua bulan”.
Menurut laporan Army Radio, serangan tersebut tidak diprediksi terjadi dalam hitungan hari. “AS tidak berbagi segalanya dengan Israel dan mengecualikannya dari proses pengambilan keputusan,” lanjut siaran tersebut. Media militer Israel itu juga menyoroti kekhawatiran bahwa Presiden AS Donald Trump mungkin mencapai kesepakatan nuklir dengan Iran tanpa menyertakan isu rudal balistik Teheran.
Dilansir dari The Times of Israel pada Senin (2/2/2026), Zamir telah menggelar serangkaian diskusi akhir pekan lalu dengan pejabat AS terkait potensi serangan ke Iran. Pekan sebelumnya, ia bertemu dengan Kepala Komando Pusat AS, Laksamana Brad Cooper, di Israel untuk mengoordinasikan langkah militer menghadapi kemungkinan konfrontasi.
Ancaman Trump terhadap Iran muncul di tengah gelombang protes anti-pemerintah di Teheran sejak akhir Desember lalu. Pejabat Iran telah menyatakan bahwa setiap agresi AS akan dibalas dengan respons “cepat dan komprehensif”.
Sementara itu, surat kabar keuangan Israel, The Calcalist, memperkirakan dampak ekonomi dari konflik potensial ini bisa mencapai USD 10 miliar. Para pakar keamanan Israel memproyeksikan biaya perang melawan Iran berpotensi menelan puluhan miliar shekel, tergantung durasi dan intensitas pertempuran.
“Skenario yang relatif paling murah adalah jika Israel tidak melancarkan serangan sama sekali,” kata Ram Aminach, mantan penasihat ekonomi untuk Kepala Staf IDF. “Bahkan jika Israel tidak melancarkan serangan, bukan berarti tidak akan ada biaya. Pertahanan udara saja menelan biaya miliaran shekel, dan dalam skenario seperti itu, biaya militer saja dapat mencapai antara 7 hingga 10 miliar shekel (USD 2,23 hingga USD 3,18 miliar).”
Sasson Hadad, mantan penasihat Kepala Angkatan Darat Israel, memperkirakan biaya perang baru bisa mencapai 15 miliar hingga 25 miliar shekel (USD 4,78 miliar hingga USD 8 miliar). The Calcalist bahkan memproyeksikan angka hingga 30 miliar shekel (sekitar USD 9,8 miliar). “Ini hanya biaya militer, belum termasuk biaya sipil,” lanjut laporan tersebut.
Latar belakang konflik ini mencakup perang 12 hari yang dilancarkan Israel dengan dukungan AS terhadap Iran pada Juni lalu, yang memicu serangan balasan drone dan rudal dari Teheran sebelum gencatan senjata diumumkan Washington. Situasi ini menambah ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, dengan implikasi global terhadap stabilitas energi dan keamanan internasional.