DAVOS, SWISS — Sejumlah negara Eropa mulai mempertanyakan komitmen jangka panjang Amerika Serikat (AS) dalam menjamin keamanan kawasan dari ancaman Rusia yang memiliki persenjataan nuklir. Keraguan tersebut mendorong munculnya wacana serius di internal Eropa untuk memperkuat penangkal nuklir sendiri, termasuk kemungkinan mengembangkan senjata atom tanpa bergantung sepenuhnya pada Washington.
Enam pejabat senior Eropa, sebagaimana dikutip NBC News, Kamis (22/1/2026), mengungkapkan bahwa para pemimpin Eropa kini tengah mendiskusikan sejumlah skenario strategis. Tiga di antaranya menyebutkan opsi untuk lebih mengandalkan kekuatan nuklir Prancis dan Inggris, atau bahkan membangun kapasitas nuklir mandiri sebagai langkah terakhir.
Pembahasan tersebut menguat dalam beberapa pekan terakhir, seiring meningkatnya ketegangan diplomatik antara Eropa dan Presiden AS Donald Trump. Dalam pidatonya di Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, Trump kembali melontarkan kritik keras terhadap negara-negara Eropa dan menegaskan ambisi AS untuk mengakuisisi Greenland, wilayah strategis yang saat ini berada di bawah Denmark.
Presiden Prancis Emmanuel Macron, yang memimpin satu-satunya negara Uni Eropa pemilik senjata nuklir, diperkirakan akan menyampaikan pidato penting terkait kebijakan nuklir Prancis dalam waktu dekat. Salah satu pejabat Eropa menyebutkan, “Kami sedang membahas bagaimana melindungi Eropa dengan penangkal nuklir dengan atau tanpa Amerika Serikat.”
Pejabat Eropa lainnya menggambarkan pembicaraan tersebut sebagai diskusi yang “intens dan produktif,” terutama terkait upaya menghadapi ancaman Rusia yang bersenjata nuklir tanpa ketergantungan penuh pada AS.
Dorongan untuk merancang ulang arsitektur keamanan Eropa ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran terhadap sikap Trump yang dinilai semakin konfrontatif, serta risiko strategis dari Rusia. Situasi tersebut juga menandai potensi pergeseran besar dalam dinamika keamanan Barat, yang selama beberapa dekade berupaya menekan, bukan memperluas, proliferasi senjata nuklir.
Presiden Ploughshares Fund sekaligus pakar pengendalian senjata, Emma Belcher, menyebut Eropa tengah mengalami “krisis kepercayaan.”
“Kami memiliki sistem pencegahan yang diperluas dan janji AS kepada sekutu bahwa jika mereka diserang dengan senjata nuklir, Amerika Serikat akan merespons,” kata Belcher.
“Ini benar-benar mencegah penyebaran senjata nuklir selama beberapa dekade. Tetapi tantangannya sekarang adalah itu hanya berfungsi jika sekutu percaya bahwa komitmen AS itu nyata,” ujarnya.
Menurut tiga pejabat Eropa, sejumlah opsi tengah dikaji, mulai dari peningkatan kapasitas nuklir Prancis, kemungkinan penempatan kembali pesawat pengebom nuklir Prancis ke luar wilayahnya, hingga penguatan pasukan konvensional di sisi timur NATO. Opsi lain yang juga dibahas adalah membekali negara-negara Eropa non-nuklir dengan kemampuan teknis untuk mengembangkan senjata atom di masa depan.
Langkah memiliki kapasitas teknis dinilai tidak melanggar Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT), selama belum memasuki tahap konkret seperti pengayaan uranium tingkat tinggi.
Menanggapi keraguan atas komitmen AS, juru bicara Gedung Putih Anna Kelly menegaskan bahwa Trump “telah berbuat lebih banyak untuk NATO daripada siapa pun.” Ia menyebut tekanan Trump agar anggota NATO meningkatkan anggaran pertahanan justru “membantu Eropa mengambil tanggung jawab yang lebih besar untuk pertahanan mereka sendiri.”
“Amerika Serikat adalah satu-satunya mitra NATO yang dapat melindungi Greenland, dan presiden memajukan kepentingan NATO dalam hal ini,” kata Kelly.
Saat ini, selain AS, hanya Prancis dan Inggris yang memiliki senjata nuklir di dalam NATO. Namun, kapasitas keduanya jauh lebih kecil. AS diperkirakan memiliki sekitar 3.700 hulu ledak nuklir, sementara Prancis sekitar 290 dan Inggris sekitar 225 hulu ledak.
Seorang mantan pejabat senior AS meragukan kemampuan Prancis dan Inggris untuk menandingi Rusia. Ia menyebut gagasan tersebut sebagai “konyol.”
“Persediaan nuklir mereka menyedihkan,” kata pejabat itu, seraya menilai kedua negara terlalu lama bergantung pada payung nuklir AS.
Keraguan juga muncul di kalangan pejabat Eropa sendiri, termasuk terkait ketidakpastian politik Prancis pasca Pemilu 2027. Pemimpin sayap kanan Marine Le Pen bahkan menegaskan bahwa senjata nuklir Prancis seharusnya hanya digunakan untuk kepentingan nasional Prancis.
Di Swedia, tokoh Demokrat sayap kanan Jimmie Åkesson menyatakan bahwa “semuanya harus dipertimbangkan,” termasuk kepemilikan senjata nuklir sendiri, menyusul keraguan terhadap keandalan AS.
Namun, peneliti Institut Hubungan Internasional Prancis, Heloise Fayet, menilai wacana tersebut lebih bersifat tekanan diplomatik.
“Saya melihatnya lebih sebagai seruan minta tolong,” kata Fayet.
“Mereka mengatakan, ‘Hei, bantu kami, atau kami akan melakukan sesuatu yang gila’,” ujarnya.
Menteri Luar Negeri Finlandia Elina Valtonen menegaskan bahwa isu penangkalan nuklir masih dapat dikelola dalam kerangka NATO.
“Untuk saat ini, kami sangat bergantung pada Amerika Serikat. Dan saya akan mengatakan bahwa memiliki payung perlindungan itu dan juga terlibat secara aktif dalam NATO juga merupakan kepentingan AS,” kata Valtonen.
“Tentu saja, kami terbuka untuk pertanyaan atau ide apa pun, dan terutama solusi, terkait pencegahan nuklir di masa depan.”
Kekhawatiran Eropa kian meningkat di tengah runtuhnya perjanjian pengendalian senjata AS-Rusia. Pada Juli lalu, Prancis dan Inggris menandatangani kerja sama nuklir bertajuk **Deklarasi Norwood**, meski rinciannya belum diungkap.
Perdana Menteri Polandia Donald Tusk mengonfirmasi bahwa negaranya “sedang berbicara serius” dengan Prancis terkait perlindungan nuklir. Kanselir Jerman Friedrich Merz juga sebelumnya menyatakan terbuka terhadap payung nuklir Prancis, berbeda dengan sikap pemerintah Jerman terdahulu.
Menteri Luar Negeri Belanda David van Weel menambahkan bahwa negaranya “tidak sepenuhnya tertutup” terhadap gagasan tersebut.
“Kami masih menganggap NATO sebagai landasan keamanan kami,” kata Van Weel.
“Pada saat yang sama, kami melihat bahwa dunia sedang berubah dan bahwa kita memasuki dunia persaingan geopolitik di mana Eropa juga perlu meningkatkan perannya dan perlu menjadi mitra yang lebih setara dengan AS daripada sekarang.”
Sementara itu, seorang pejabat Inggris memilih tidak berkomentar langsung mengenai diskusi tersebut.
“Sikap kami terus ditinjau dan menanggapi ancaman yang berkembang,” katanya.
Pidato Macron mengenai kebijakan nuklir Prancis, yang diperkirakan akan disampaikan paling cepat Februari mendatang, dinilai akan menjadi penentu arah baru keamanan strategis Eropa.
