JAKARTA — Dua remaja Suriah mengaku dipaksa mengikuti pelatihan militer oleh kelompok YPG/SDF di wilayah timur laut Suriah. Mereka menceritakan pengalaman pahit saat ditahan dan direkrut secara paksa, termasuk perlakuan tidak manusiawi di kamp-kamp pelatihan.
Bekir Feyiz Beles (16) dan Husam Ibrahim Jasim (17) ditangkap pada Desember 2025 ketika berusaha menyeberang ke Turkiye melalui Kota Ayn al-Arab. Husam, asal Distrik Manbij, Aleppo, mengatakan mereka dibawa ke Hasakah dan dipaksa menjalani pelatihan militer. “Sidik jari kami diambil dengan ancaman senjata. Kami ditekan dan dipaksa mengikuti pelatihan,” ujarnya, dilansir dari Anadolu, Kamis (22/1/2026).
Husam menambahkan, banyak anak di bawah umur berada di kamp tersebut, sebagian besar berusia di bawah 18 tahun. Ia juga mengungkap adanya kekerasan fisik terhadap anak-anak yang menolak. “Kami dipukuli ketika menolak. Mereka menjatuhkan kami ke tanah dan memukuli kami bersama-sama,” katanya. Kondisi kamp digambarkan buruk, dengan cuaca dingin ekstrem, minim fasilitas, dan makanan terbatas.
Bekir, asal Homs, mengalami hal serupa. Ia dipindahkan ke beberapa kamp di Raqqa dan Hasan Derviş. “Selama tiga hari, kami hanya diberi roti dan tomat. Tidak ada makan malam dan tidak ada air,” ungkapnya. Upaya melarikan diri gagal karena ancaman ditembak oleh anggota bersenjata.
Keduanya akhirnya bebas setelah pasukan Suriah melancarkan operasi militer di wilayah barat dan timur Sungai Efrat, memaksa YPG/SDF mundur dari sejumlah area. Setelah keluar dari kamp, Bekir dan Husam menyerahkan diri kepada pasukan pemerintah Suriah.