JAKARTA – Pembangunan LNG Abadi Blok Masela resmi memasuki babak baru sebagai salah satu proyek energi terbesar di Indonesia yang diproyeksikan memperkuat ketahanan energi sekaligus mendorong pemerataan pembangunan di kawasan timur.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan proyek strategis nasional ini tidak hanya berorientasi pada investasi, tetapi juga memastikan manfaat ekonomi dirasakan langsung masyarakat sekitar.
Pemerintah menilai keberhasilan proyek berskala besar harus diukur melalui dampak nyata terhadap kesejahteraan warga, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan pertumbuhan ekonomi daerah.
“Keberhasilan PSN sesungguhnya tidak hanya diukur dari nilai investasinya, tetapi sejauh mana manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat lokal,” kata Dwi Anggia melalui keterangan resmi, Rabu (29/7).
LNG Abadi Blok Masela diluncurkan Presiden Prabowo Subianto pada 16 Juli 2026 dengan nilai investasi mencapai USD20,9 miliar atau sekitar Rp340 triliun.
Proyek tersebut diproyeksikan memproduksi 9,5 juta ton LNG setiap tahun, 150 juta kaki kubik gas pipa per hari, serta 35.000 barel kondensat per hari.
Produksi energi dari Blok Masela akan menjadi salah satu penopang penting kebutuhan energi nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen LNG dunia.
Pemerintah menetapkan sedikitnya 60 persen produksi LNG wajib diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik.
Pasokan tersebut akan mendukung sektor industri strategis, termasuk pabrik pupuk, pembangkit listrik, hingga berbagai industri nasional yang membutuhkan energi gas.
Kebijakan itu menjadi langkah pemerintah agar sumber daya alam nasional memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kepentingan rakyat Indonesia.
Selain memperkuat pasokan energi, proyek ini juga membawa inovasi melalui penerapan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) sejak tahap produksi.
Teknologi tersebut dirancang untuk menangkap dan menyimpan emisi karbon sehingga aktivitas produksi gas tetap sejalan dengan target pengurangan emisi nasional.
“Artinya, proyek ini tidak hanya memperkuat ketahanan energi, tapi menjadi wujud komitmen Indonesia menuju transisi energi bersih dan berkelanjutan,” tutur Dwi Anggia.
Dari sisi ekonomi, pembangunan LNG Abadi Blok Masela diperkirakan mampu menyerap hingga 12.000 tenaga kerja pada berbagai tahapan proyek.
Pemerintah juga menyiapkan pendidikan vokasi dan pelatihan keterampilan bagi generasi muda Kepulauan Tanimbar agar memiliki kompetensi sesuai kebutuhan industri energi.
Langkah tersebut diharapkan membuka peluang kerja yang lebih luas sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia di kawasan proyek.
Keberadaan LNG Abadi Blok Masela diharapkan menjadi motor pertumbuhan ekonomi baru yang mampu menghadirkan pemerataan pembangunan dari Indonesia Timur.
“LNG Abadi Blok Masela adalah bukti bahwa pembangunan Indonesia tidak hanya berpusat di satu wilayah. Dari Kepulauan Tanimbar, kita sedang membangun fondasi baru bagi ketahanan energi nasional,” tegas Dwi Anggia.***



