KALBAR — Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo menyoroti persoalan drainase dan ketersediaan air bersih saat meninjau Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 2 Kota Pontianak, Kalimantan Barat, Jumat (12/9/2026). Kedua infrastruktur dasar tersebut dinilai perlu dipastikan berfungsi optimal sebelum aktivitas sekolah dan kehidupan siswa di asrama berjalan sepenuhnya.
Dody secara khusus meminta sistem drainase di kawasan sekolah tidak mengalami hambatan dan memiliki koneksi yang baik dengan saluran lingkungan hingga menuju sungai terdekat. Menurut dia, sistem pembuangan air harus dipastikan mampu bekerja dengan baik agar tidak menimbulkan persoalan genangan ketika fasilitas sekolah digunakan secara penuh.
“Yang perlu hati-hati ini masalah drainase, jangan sampai buntu. Ini harus kita koreksi, termasuk hal-hal minor lainnya, dan nanti sambil berjalan kita sempurnakan,” kata Dody saat meninjau SRT 2 Pontianak.
Dalam kunjungan tersebut, Dody memeriksa sejumlah fasilitas yang tersedia di kompleks sekolah. Peninjauan mencakup ruang kelas, asrama siswa, dapur, ruang makan, hingga fasilitas sanitasi.
Ia menekankan, penyelesaian pembangunan tidak hanya diukur dari rampungnya pekerjaan fisik. Setiap fasilitas harus dapat digunakan secara optimal dan mampu mendukung kebutuhan sehari-hari para siswa yang tinggal di lingkungan sekolah.
Selain drainase, kualitas air bersih menjadi perhatian lain yang disoroti Dody. Saat ini, pasokan air ke SRT 2 Pontianak memiliki debit sekitar 2,3 liter per detik dan masih memungkinkan untuk ditingkatkan sesuai kebutuhan.
Namun, kondisi air di wilayah Pontianak dan sekitarnya menjadi persoalan yang perlu diperhatikan. Dody menyebut karakteristik air yang berpotensi payau harus menjadi pertimbangan dalam memastikan sumber air yang masuk ke kawasan sekolah memenuhi kebutuhan para siswa.
“Ini satu hal yang harus kita pikirkan sama-sama, bagaimana agar air yang masuk ke sini tidak payau. Tapi tidak hanya masalah di sini, kita bisa bicara masalah Kota Pontianak dan sekitarnya,” ujarnya.
SRT 2 Kota Pontianak dibangun di atas lahan seluas 5,1 hektare. Kompleks pendidikan tersebut memiliki 36 ruang kelas yang terdiri atas 18 kelas untuk jenjang SD, sembilan kelas SMP, dan sembilan kelas SMA.
Dengan kapasitas maksimal mencapai 1.080 siswa, sekolah tersebut juga dilengkapi berbagai fasilitas pendukung. Di antaranya laboratorium, lapangan olahraga, tempat ibadah, ruang guru, serta asrama bagi siswa.
Dari sisi progres pembangunan, pekerjaan fisik SRT 2 Pontianak telah mencapai 99,35 persen per 9 September 2026. Meski belum seluruh pekerjaan dinyatakan selesai, fasilitas sekolah sudah mulai digunakan sejak Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) pada akhir Juli 2026.
Saat ini, sebanyak 240 siswa dan 14 tenaga pengajar telah menjalankan kegiatan belajar mengajar di kompleks tersebut. Adapun sejumlah pekerjaan minor dan penataan lingkungan masih diselesaikan dan ditargetkan rampung seluruhnya sesuai kontrak pada 30 September 2026.
Pemerintah berharap keberadaan Sekolah Rakyat dapat membuka akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu hingga keluarga miskin ekstrem. Pendidikan diharapkan menjadi salah satu jalan bagi mereka untuk memperbaiki kondisi kehidupan di masa mendatang.
Dody menilai fasilitas yang telah disiapkan melalui program tersebut perlu dimanfaatkan sebaik mungkin oleh para siswa untuk mendukung proses pendidikan mereka.
“Sekolah rakyat ini sangat positif. Melalui pendidikan, anak-anak dari keluarga berpenghasilan menengah ke bawah memiliki kesempatan memperbaiki kehidupan ekonominya. Fasilitasnya sudah disiapkan, sehingga mereka tinggal belajar dengan tekun dan rajin untuk mencapai cita-citanya,”tutupnya.