JAKARTA – Sedikitnya 20 anggota Pasukan Mobilisasi Populer (PMF) tewas dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Arab Saudi di Irak pada Rabu (29/7/2026). Serangan itu menargetkan kelompok-kelompok pro-Iran yang tergabung dalam aliansi paramiliter.
Washington dan Riyadh menyatakan operasi tersebut dilakukan sebagai balasan atas serangan drone dari Irak yang menyasar pasukan AS dan fasilitas minyak Saudi.
Dilansir kantor berita AFP, menurut pernyataan PMF, serangan mengenai pangkalan mereka di tujuh provinsi, termasuk Baghdad, Nineveh, dan Basra, serta menimbulkan kerusakan material. “Agresi” itu disebut sebagai bentuk “eskalasi berbahaya” terhadap lembaga keamanan resmi Irak.
Seorang pejabat PMF yang enggan disebut namanya mengatakan kepada AFP bahwa serangan di Nineveh dan Diyala merupakan yang paling mematikan.
PMF dibentuk pada 2014 untuk melawan militan sebelum resmi diintegrasikan ke angkatan bersenjata Irak. Namun, sejumlah brigade di dalamnya dikenal memiliki kedekatan dengan Iran dan kerap bertindak independen.
Serangan gabungan ini terjadi setelah otoritas Saudi mengklaim berhasil mencegat drone yang menargetkan fasilitas minyak di wilayah timur. Riyadh menuding kelompok pro-Iran di Irak sebagai dalang serangan tersebut.
Langkah militer terbaru berlangsung di tengah tekanan AS terhadap pemerintah Irak agar melucuti senjata kelompok bersenjata pro-Iran. Perdana Menteri Irak, Ali al-Zaidi, sebelumnya berjanji memastikan kelompok-kelompok itu menyerahkan senjata, meski menghadapi penolakan dari sejumlah faksi kuat.



