PYONGYANG – Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un telah menjanjikan kepada Presiden Rusia Vladimir Putin dukungan tanpa syarat dan permanen untuk semua kebijakannya, menurut sebuah surat yang dilaporkan oleh media pemerintah KCNA pada hari Jumat.
“Saya akan menghormati tanpa syarat dan mendukung tanpa syarat semua kebijakan dan keputusan Anda dan saya memiliki kemauan untuk selalu bersama Anda demi Anda dan Rusia Anda,” tulis Kim kepada Putin. “Pilihan ini akan tetap dan permanen.”
Surat tersebut, yang menurut KCNA merupakan respons terhadap pesan sebelumnya dari Putin, menandai ungkapan terbaru dari semakin eratnya hubungan antara kedua negara saat Korea Utara memberikan dukungan militer penting untuk perang Rusia di Ukraina.
Kemitraan Militer Semakin Intensif
Pertukaran pesan ini menyusul ucapan Tahun Baru Putin pada 18 Desember kepada Kim yang memuji partisipasi “heroik” para prajurit Korea Utara yang bertempur di wilayah Kursk, Rusia, dengan menyebut hal itu “terbukti jelas memperlihatkan persahabatan yang tak terkalahkan” antara kedua negara. Korea Utara telah mengirimkan lebih dari 10.000 pasukan untuk mendukung kekuatan Rusia, dengan perkiraan menunjukkan hampir sepertiga telah menjadi korban jiwa.
Badan intelijen Korea Selatan memperkirakan sekitar 2.000 prajurit Korea Utara tewas dalam pertempuran. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan pada hari Senin bahwa setidaknya 3.800 dari 12.000 pasukan Korea Utara yang dikerahkan telah tewas atau terluka.
Selain pasukan, Korea Utara telah memasok Rusia dengan jutaan peluru artileri, rudal balistik, dan sistem roket. Sebagai imbalannya, para analis mengatakan Pyongyang menerima bantuan keuangan, teknologi militer canggih, serta pasokan makanan dan energi yang krusial.
Fondasi Perjanjian Strategis
Pendalaman kerja sama militer ini berakar pada Perjanjian Kemitraan Strategis Komprehensif yang ditandatangani oleh Putin dan Kim pada Juni 2024, yang mencakup klausul pertahanan bersama yang mewajibkan bantuan militer segera jika salah satu negara menghadapi agresi bersenjata. Perjanjian tersebut, yang mulai berlaku pada Desember 2024, merupakan apa yang Putin sebut sebagai “terobosan” dalam hubungan bilateral.
Dalam pesan Tahun Barunya kepada pasukan yang ditempatkan di Rusia, Kim menggambarkan aliansi ini sebagai “tak terkalahkan” dan mengatakan hubungan tersebut telah “dikonsolidasikan dengan berbagi darah, hidup dan mati di parit yang sama”. Pemimpin Korea Utara itu mengatakan kepada prajuritnya bahwa “di belakang kalian ada Pyongyang dan Moskow”.