WASHINGTON, AS – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan rencana pertemuan dengan Presiden Kolombia Gustavo Petro di Gedung Putih dalam waktu dekat. Pengumuman ini menyusul pembicaraan telepon yang meredakan ketegangan diplomatik akut antara kedua negara.
Langkah tersebut muncul hanya beberapa hari setelah Trump melontarkan ancaman tindakan militer terhadap Kolombia, serupa dengan operasi penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh pasukan Amerika Serikat pada pekan lalu.
Melalui unggahan di platform Truth Social, Trump menyatakan bahwa Petro menghubunginya untuk menjelaskan situasi terkait narkoba dan berbagai perselisihan lain antara kedua negara. Trump mengaku menghargai panggilan tersebut dan nada pembicaraan yang disampaikan, serta menyatakan menantikan pertemuan dalam waktu dekat di Gedung Putih.
Perubahan sikap ini terjadi setelah operasi militer AS di Caracas pada akhir pekan lalu yang berujung pada penangkapan Nicolás Maduro dan istrinya, Cilia Flores. Keduanya akan menghadapi tuduhan narkoterorisme dan perdagangan narkoba di pengadilan New York. Operasi tersebut menuai kecaman internasional karena dinilai sebagai bentuk intervensi langsung terhadap kedaulatan negara lain.
Sebelumnya, pada Minggu, Trump mengatakan kepada wartawan di Air Force One bahwa intervensi militer serupa di Kolombia “kedengarannya bagus bagi saya”, merujuk pada isu perdagangan kokain yang diduga melibatkan pemerintahan Petro.
Pernyataan itu memicu respons keras dari Kolombia. Presiden Petro pada Senin menyatakan kesiapannya untuk “mengangkat senjata” jika menghadapi ancaman tersebut. Ia juga menyerukan demonstrasi massal di seluruh Kolombia pada Rabu sebagai bentuk penolakan terhadap tekanan dari Amerika Serikat.
Wakil Menteri Luar Negeri Kolombia, Mauricio Jaramillo, pada Rabu memperingatkan bahwa serangan AS terhadap Venezuela dapat menimbulkan dampak bencana bagi stabilitas Amerika Latin secara keseluruhan.
Meski demikian, Petro mengonfirmasi kepada para pendukungnya bahwa ia akan menghadiri pertemuan di Gedung Putih, meskipun tanggal pastinya belum ditentukan. Ia sempat menyiapkan pidato bernada keras, namun meredam sikap tersebut setelah melakukan pembicaraan telepon selama satu jam dengan Trump.
Petro juga menekankan pentingnya memulihkan komunikasi langsung antara kementerian luar negeri dan para presiden masing-masing negara guna mencegah eskalasi lebih lanjut.
Pertemuan ini dipandang sebagai upaya diplomatik untuk meredakan krisis regional, di tengah kekhawatiran global terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang dinilai semakin agresif di Amerika Latin, khususnya terkait isu narkoba dan keamanan.