Krisis energi paling serius dalam sejarah modern sedang menghantam Asia Tenggara. Blokade dan gangguan di Selat Hormuz akibat konflik AS-Israel-Iran telah memicu guncangan hebat pada rantai pasok global. Akibatnya, pemerintah di seluruh kawasan kini harus memutar otak untuk mengamankan bahan bakar alternatif di tengah harga yang tak masuk akal.
Filipina di Titik Nadir, Malaysia Terkuras
Filipina menjadi negara yang paling berdarah-darah. Dengan 98 persen impor minyak yang bergantung pada Timur Tengah, lebih dari 400 SPBU di sana terpaksa tutup. Harga solar melonjak drastis hingga di atas P100 per liter. Menteri Energi Sharon Garin memberikan peringatan mengerikan: cadangan nasional mungkin hanya bertahan hingga akhir April. “Skenario terburuknya, kita benar-benar kehabisan stok,” ujarnya cemas.
Di Malaysia, meskipun statusnya sebagai produsen minyak, beban subsidi melonjak mengerikan dari RM700 juta menjadi RM3,2 miliar hanya dalam satu minggu. Sementara itu, Vietnam terpaksa menaikkan harga eceran dua kali dalam tiga hari untuk mengimbangi harga minyak dunia yang sempat menyentuh $120 per barel.
Respons ASEAN: Hari Kerja Dipangkas, Ekspor Disetop
Menanggapi situasi genting ini, para menteri ASEAN mengadakan sidang khusus pada 13 Maret 2023. Filipina mengambil langkah ekstrem dengan memangkas hari kerja pegawai pemerintah demi hemat energi. Thailand bahkan menghentikan total ekspor energi ke hampir semua negara tetangga.
PBB memperingatkan bahwa harga gas telah meroket 55 persen, yang berpotensi memicu inflasi regional hingga 4,6 persen pada tahun 2026.
Berpaling ke Rusia sebagai Solusi Terakhir?
Upaya mencari pasokan alternatif dari AS dan Australia menemui jalan buntu karena fasilitas mereka sudah beroperasi pada kapasitas maksimal. Kondisi terjepit ini memaksa Filipina mempertimbangkan langkah diplomasi yang sensitif: membeli minyak dari Rusia. Pemerintah setempat sedang meninjau proposal untuk mengamankan satu hingga dua juta barel cadangan darurat demi menjaga napas ekonomi negara.