JAKARTA โ Krisis timnas Italia usai gagal ke Piala Dunia 2026 menjadi sorotan tajam setelah Azzurri kembali absen untuk ketiga kalinya secara beruntun sejak edisi 2014.
Kegagalan timnas Italia ke Piala Dunia 2026 semakin mempertegas kemunduran sepak bola Negeri Pizza yang kini menghadapi tuntutan reformasi total dari berbagai pihak.
Sorotan terhadap kegagalan timnas Italia ke Piala Dunia 2026 juga mengarah pada posisi pelatih Gennaro Gattuso yang berada di ujung tanduk usai kekalahan dramatis dari Bosnia dan Herzegovina.
Italia harus menelan pil pahit setelah tumbang lewat adu penalti dari Bosnia dalam final playoff kualifikasi Eropa yang memastikan mereka kembali absen di panggung sepak bola terbesar dunia.
Mengutip laporan The Independeng, Kamis, Gattuso bersama delegasi teknis Gianluigi Buffon sebenarnya baru mengambil alih tim pada Juni 2025 menggantikan Luciano Spalletti saat posisi Italia sudah tertinggal jauh di grup kualifikasi.
Upaya membalikkan keadaan gagal total dan Italia pun harus mengubur mimpi tampil di turnamen yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Buffon menegaskan bahwa dirinya dan Gattuso masih akan bertahan sementara hingga akhir musim, namun masa depan keduanya belum mendapat kepastian dari federasi.
Ia menyebut situasi ini sangat sensitif dan membutuhkan evaluasi menyeluruh sebelum keputusan besar diambil oleh federasi.
Tekanan juga datang dari ranah politik yang menilai kegagalan ini sebagai aib besar bagi sepak bola Italia.
Partai Lega dalam koalisi pemerintahan Giorgia Meloni secara terbuka mengecam federasi dan meminta presiden FIGC Gabriele Gravina untuk mundur.
Menteri olahraga Italia Andrea Abodi turut menyerukan reformasi total dari akar hingga pucuk kepemimpinan sepak bola nasional.
Di tengah tekanan tersebut, sejumlah nama mulai mencuat sebagai kandidat kuat pelatih baru timnas Italia jika Gattuso resmi didepak.
Nama pertama yang menguat adalah Massimiliano Allegri yang disebut sebagai pilihan favorit publik.
Pelatih yang kini menangani AC Milan itu dikenal berpengalaman dengan segudang prestasi termasuk dominasi bersama Juventus di Serie A.
Meski demikian, gaya bermainnya yang konservatif kerap menuai kritik karena dinilai kurang memberi ruang bagi pemain muda berkembang.
Kandidat berikutnya adalah Roberto Mancini yang pernah membawa Italia menjuarai Euro 2020.
Kesuksesan Mancini ditandai rekor tak terkalahkan sepanjang 37 pertandingan sebelum akhirnya meredup setelah gagal lolos ke Piala Dunia 2022.
Ia kini disebut tertarik kembali menangani timnas demi mengembalikan kejayaan Azzurri.
Nama lain yang masuk radar adalah Antonio Conte yang juga pernah menukangi Italia pada Euro 2016.
Conte dikenal sebagai pelatih berkarakter kuat dengan rekam jejak sukses di level klub termasuk bersama Juventus, Chelsea, dan Inter Milan.
Selain itu, Stefano Pioli menjadi opsi realistis karena saat ini tidak terikat kontrak usai dipecat Fiorentina.
Pengalamannya membawa AC Milan meraih Scudetto 2022 menjadi nilai tambah meski performa terakhirnya kurang meyakinkan.
Legenda hidup Italia Fabio Cannavaro juga masuk bursa kandidat meski karier kepelatihannya belum stabil.
Cannavaro yang pernah membawa Italia juara Piala Dunia 2006 dinilai punya karisma, namun minim konsistensi di level klub maupun internasional.
Sementara itu, Thiago Motta hadir sebagai opsi pelatih muda dengan potensi besar meski pengalaman di klub elite masih terbatas.
Keberhasilannya bersama Bologna sempat mencuri perhatian sebelum gagal total saat melatih Juventus.
Kini, federasi Italia dihadapkan pada keputusan krusial yang akan menentukan arah masa depan sepak bola nasional.
Perombakan besar-besaran menjadi opsi yang tak terelakkan jika Italia ingin keluar dari krisis panjang dan kembali bersaing di level dunia.***