SANA’A, YAMAN – Ketegangan di perairan Laut Merah memuncak setelah kelompok Houthi Yaman melancarkan serangan brutal yang menenggelamkan kapal kargo Eternity C berbendera Liberia. Serangan ini memicu operasi penyelamatan besar-besaran untuk menyelamatkan awak kapal, di tengah tuduhan bahwa kapal tersebut tengah menuju Israel.
Serangan Mematikan di Laut Merah
Pada Senin malam, 7 Juli 2025, kapal Eternity C yang dioperasikan oleh perusahaan Yunani diserang oleh Houthi menggunakan kombinasi senjata mematikan, termasuk granat berpeluncur roket yang ditembakkan dari kapal-kapal kecil, drone laut, dan rudal. Akibat serangan tersebut, kapal mengalami kerusakan parah hingga kehilangan seluruh tenaga penggerak, dan akhirnya tenggelam pada Rabu, 9 Juli 2025.
Menurut Badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO), “Operasi pencarian dan penyelamatan dimulai sejak malam,” sebagaimana dikutip dari *Arab News*, Rabu, 9 Juli 2025. Dari 25 awak kapal, hanya enam yang berhasil diselamatkan hingga kini. Sementara itu, nasib belasan awak lainnya masih menjadi tanda tanya, dengan laporan bahwa beberapa di antaranya diduga diculik oleh Houthi.
Solidaritas untuk Palestina
Kelompok Houthi, yang didukung Iran, menyatakan bahwa serangan ini merupakan bagian dari aksi solidaritas terhadap rakyat Palestina di Jalur Gaza. Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, menegaskan bahwa Eternity C menjadi sasaran karena kapal tersebut diduga menuju pelabuhan Eilat, Israel. “Angkatan Laut pada Angkatan Bersenjata Yaman menargetkan kapal Eternity C,” ujar Saree dalam pernyataan yang disiarkan televisi lokal, menegaskan bahwa serangan dilakukan setelah kapal mengabaikan peringatan Angkatan Laut Houthi.
Serangan ini menjadi yang kedua dalam kurun waktu 24 jam, setelah Houthi juga menenggelamkan kapal kargo lain, Magic Seas, pada Minggu, 6 Juli 2025. Kedua kapal tersebut berbendera Liberia dan dioperasikan oleh perusahaan Yunani, yang menurut Houthi memiliki kaitan dengan logistik Israel.
Dampak Global dan Respons Internasional
Serangan ini menandai kembalinya aksi militer Houthi di Laut Merah setelah jeda sejak Desember 2024. Laut Merah, salah satu jalur perdagangan maritim terpenting di dunia, kini kembali berada dalam ancaman, mengganggu keamanan pelayaran global. Kedutaan Besar Amerika Serikat di Yaman menyebut serangan terhadap *Eternity C* sebagai “yang paling brutal sejauh ini” dan menuduh Houthi merusak kebebasan navigasi di kawasan tersebut.
Sementara itu, Operasi Aspides, satuan tugas Angkatan Laut Uni Eropa, melaporkan bahwa setidaknya tiga awak tewas dan dua lainnya luka-luka dalam serangan tersebut.
“Serangan-serangan ini menunjukkan ancaman nyata yang terus ditimbulkan pemberontak Houthi yang didukung Iran terhadap kebebasan navigasi serta keamanan ekonomi dan maritim regional,” kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Tammy Bruce, seperti dilansir The Associated Press, Rabu, 9 Juli 2025.
Latar Belakang Konflik
Houthi, yang menguasai sebagian besar wilayah Yaman sejak lebih dari satu dekade, mulai menargetkan kapal-kapal di Laut Merah sejak November 2023 sebagai respons atas konflik Gaza yang dipicu serangan Hamas pada Oktober 2023. Menurut data, lebih dari 57.700 orang telah tewas akibat agresi militer Israel di Gaza, yang menjadi alasan Houthi melancarkan serangan terhadap kapal-kapal yang diduga terkait Israel atau sekutunya.
Serangan ini juga terjadi di tengah meningkatnya tensi regional, dengan Houthi baru-baru ini berupaya menyerang Bandara Ben Gurion di Israel menggunakan rudal balistik, meskipun serangan tersebut berhasil dicegat oleh militer Israel.
Misi Penyelamatan dan Tantangan ke Depan
Operasi penyelamatan yang dilakukan bersama perusahaan keamanan Inggris, Ambrey, masih berlangsung untuk menemukan awak kapal yang hilang. Laporan menyebutkan bahwa beberapa awak ditemukan mengapung di laut dengan jaket pelampung, namun nasib sebagian besar masih belum jelas.
Insiden ini menambah daftar panjang serangan Houthi, yang telah menyerang lebih dari 100 kapal sejak akhir 2023. Dengan kembalinya aksi militer Houthi, dunia kini kembali memandang Laut Merah sebagai kawasan rawan konflik, yang dapat berdampak signifikan pada perdagangan global dan stabilitas kawasan.