DEPOK – Di tengah pesatnya perkembangan wilayah penyangga ibu kota, tradisi masyarakat Betawi di Depok masih terus hidup dan dijaga melalui berbagai praktik budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
Salah satu bentuk pelestarian tersebut adalah Lebaran Depok, sebuah rangkaian tradisi yang mencerminkan cara masyarakat Betawi menyambut bulan Ramadan, merayakan Idul Fitri, hingga menjalani bulan Syawal.
Berbeda dengan perayaan festival budaya di kota besar, Lebaran Depok lebih berakar pada praktik keseharian masyarakat.
Tradisi ini tumbuh dari lingkungan keluarga dan komunitas, lalu dalam beberapa tahun terakhir mulai diangkat menjadi bagian dari event budaya lokal.
“Lebaran Depok itu event untuk mengangkat kembali tradisi Betawi Depok kalau menyambut puasa dan lebaran,” ujar Nuroji, salah satu anggota dewan yang merupakan tokoh masyarakat Betawi yang aktif dalam pelestarian budaya, melalui wawancara tertulis Garuda TV.
Tradisi Menjelang Ramadan: Rowahan dan Munggahan
Rangkaian Lebaran Depok dimulai bahkan sebelum bulan puasa tiba, yaitu melalui tradisi Rowahan. Kegiatan ini dilakukan pada bulan Sya’ban, atau yang oleh masyarakat Betawi disebut sebagai bulan Rowah.
“Rowahan dilakukan sebelum munggahan atau memulai puasa, yaitu acara berdoa sambil makan makanan tradisional Betawi… sambil mengirim doa untuk arwah leluhur,” jelas Nuroji.
Tradisi ini mencerminkan nilai spiritual yang kuat, di mana masyarakat tidak hanya mempersiapkan diri secara fisik, tetapi juga secara batin. Doa bersama dan hidangan khas seperti semur kebo, sayur godog, dan ayam bekakak menjadi bagian dari kebersamaan tersebut.
Setelah Rowahan, masyarakat melanjutkan dengan munggahan, yaitu penanda dimulainya bulan puasa. Momen ini biasanya diisi dengan kebersamaan keluarga sebagai bentuk syukur dan kesiapan menjalani ibadah Ramadan.
Andilan: Gotong Royong Menyambut Lebaran
Memasuki bulan Ramadan, masyarakat mulai mempersiapkan kebutuhan untuk hari raya. Salah satu tradisi khas yang masih bertahan adalah andilan, yaitu sistem gotong royong untuk membeli kerbau.
Dalam praktiknya, sejumlah warga akan berkumpul dan menyisihkan uang secara bersama-sama untuk membeli satu atau beberapa ekor kerbau. Tradisi ini bahkan sudah dimulai jauh hari, bahkan sejak setelah Lebaran tahun sebelumnya.
“Ada juga andilan itu dibuka pendaftaran pas setelah hari raya sebelumnya selesai… jadi satu tahun menabung bersama untuk beli daging kerbau,” ungkap Nuroji.
Pemilihan kerbau bukan tanpa alasan. Dalam budaya Betawi, daging kerbau memiliki nilai simbolis sebagai hidangan khas Lebaran.
“Kenapa bukan sapi? Karena tradisinya Betawi makan semur kebo kalau lebaran,” tambahnya.
Menjelang Idul Fitri, kerbau tersebut disembelih dan dibagikan secara merata kepada seluruh peserta andilan. Pembagian dilakukan dengan adil, mencakup daging, tulang, hingga jeroan.
Ngubek Empang: Tradisi Penuh Kebersamaan
Selain andilan, masyarakat Betawi Depok juga mengenal tradisi ngubek empang. Tradisi ini dilakukan dengan menangkap ikan secara bersama-sama di kolam atau empang milik warga.
“Nah ngubek empang ini diundanglah para tetangga untuk sama-sama nangkep ikan, tentunya dibagi juga kepada tetangga,” ujar Nuroji.
Tidak hanya sekadar mencari ikan, kegiatan ini menjadi ajang kebersamaan yang penuh keceriaan. Warga berkumpul, bercengkerama, dan menikmati momen kebersamaan menjelang hari raya.
Tradisi ini juga mencerminkan hubungan sosial yang erat antarwarga, di mana hasil panen tidak hanya dinikmati sendiri, tetapi juga dibagikan kepada lingkungan sekitar.
Abugan dan Persiapan Lebaran
Menjelang akhir Ramadan, masyarakat Betawi Depok memiliki tradisi membuat kue-kue khas yang dikenal dengan sebutan abugan. Kegiatan ini biasanya dilakukan pada malam-malam ganjil, seperti tanggal 23, 25, atau 27 Ramadan.
“Biasanya orang Betawi bikin kue abug, kue pisang, kue unti… pada malam 23, 25 atau 27 Ramadan,” jelas Nuroji.
Kue-kue tersebut kemudian dibagikan kepada kerabat dan tetangga sebagai bentuk berbagi kebahagiaan. Tradisi ini menjadi bagian dari persiapan menyambut Idul Fitri sekaligus mempererat hubungan sosial.
Rantangan: Simbol Silaturahmi Saat Lebaran
Puncak dari seluruh rangkaian tradisi adalah perayaan Idul Fitri. Selain hidangan khas seperti semur kebo, sayur godog, dan ketupat, masyarakat Betawi Depok juga menjalankan tradisi rantangan atau nyorog.
Tradisi ini dilakukan dengan membawa makanan dalam wadah rantang untuk diberikan kepada anggota keluarga yang lebih tua.
“Yang muda mendatangi saudara atau kerabat yang lebih tua dengan membawa rantang… sambil meminta maaf lahir batin,” ungkap Nuroji.
Sebagai balasan, pihak yang lebih tua biasanya memberikan uang atau hadiah kepada anak-anak dan anggota keluarga yang datang. Tradisi ini memperkuat nilai hormat kepada orang tua sekaligus menjaga silaturahmi.
Makna yang Tetap Relevan
Lebaran Depok bukan sekadar rangkaian tradisi, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai yang masih relevan hingga saat ini. Gotong royong, kebersamaan, saling berbagi, dan menjaga hubungan kekeluargaan menjadi inti dari seluruh kegiatan tersebut.
“Maknanya gotong royong, menjaga silaturahmi, tolong-menolong, saling memaafkan, dan tentunya ibadah,” tutur Nuroji.
Di tengah perubahan zaman, tradisi ini menjadi pengingat bahwa budaya lokal memiliki peran penting dalam membentuk identitas masyarakat. Lebaran Depok menunjukkan bahwa nilai-nilai lama tidak harus hilang, tetapi bisa terus hidup dan beradaptasi dalam kehidupan modern.
Dengan terus dilestarikan, tradisi ini tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga jembatan yang menghubungkan generasi masa kini dengan akar sejarah mereka. (FB)