JAKARTA – Robert Lewandowski kembali membuktikan bahwa usia dan perubahan peran belum mampu meredam insting golnya bersama Barcelona.
Pada usia 37 tahun, dengan kontrak yang mendekati akhir dan status yang lebih fleksibel di era pelatih Hansi Flick, penyerang asal Polandia itu tetap melakukan hal paling krusial yang membuat manajemen sulit mengambil keputusan: mencetak gol secara konsisten.
Gol Lewandowski di final Piala Super Spanyol kontra Real Madrid menjadi bukti terbaru ketajamannya lewat pergerakan cerdas di antara bek tengah, timing lari yang presisi, serta penyelesaian dingin melewati Thibaut Courtois setelah umpan Pedri.
Mengutip laporan SB Nation, Selasa, momen tersebut menambah koleksi golnya di final Piala Super menjadi empat sejak bergabung pada 2022, sekaligus menegaskan turnamen ini sebagai panggung personalnya.
Dengan raihan tiga trofi Piala Super Spanyol, dua gelar La Liga, dan satu Copa del Rey, Lewandowski kini telah mengemas 111 gol bersama Barcelona dan hanya terpaut sepuluh gol dari daftar sepuluh pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah klub.
Perubahan paling nyata dari faktor usia terlihat pada manajemen menit bermain, karena Flick tak ragu menyimpannya di bangku cadangan sebagai bagian dari rotasi.
Musim ini Lewandowski sudah tiga kali tak dimainkan sama sekali dan sembilan kali masuk sebagai pemain pengganti, baik akibat kehati-hatian pascacedera otot maupun karena performa apik Ferran Torres di posisi serupa.
Meski demikian, statistiknya menolak narasi penurunan performa dengan catatan sepuluh gol dari sedikit lebih 1.000 menit bermain atau rata-rata satu gol setiap 100 menit.
Musim lalu bahkan lebih tajam, karena ia mencetak 42 gol dengan rasio satu gol tiap 93,5 menit.
Sering memulai laga dari bangku cadangan juga tak menghalanginya menentukan hasil, termasuk saat absen total di semifinal Piala Super namun tampil sebagai starter dan pencetak gol di final.
Ia juga menjadi pembeda ketika masuk dari bangku cadangan pada derby liga melawan Espanyol dan memastikan kemenangan di menit-menit akhir.
Menurut laporan Marca, Lewandowski menerima pengurangan menit bermain tanpa konflik dan tanpa mempertanyakan keputusan Flick.
Usai mengangkat trofi Piala Super, ia menegaskan filosofi kolektifnya dengan mengatakan, “Kami memenangkan Piala Super sebagai sebuah tim.”
Sikap tersebut dinilai sangat berpengaruh di ruang ganti, bahkan membuat Flick memberikan pujian terbuka.
Pelatih asal Jerman itu menyatakan, “Saya belum pernah memiliki pemain yang begitu profesional seperti dia.”
Interaksi aktif Lewandowski dalam sesi latihan, kedekatannya dengan Pedri dan Ferran, hingga perannya menyambut pemain muda seperti Bardghji menunjukkan kedewasaan dalam memahami fase kariernya.
Namun masa depan sang striker tetap diliputi ketidakpastian karena kontraknya akan berakhir pada 30 Juni dan gajinya termasuk yang tertinggi di skuad.
Menurut AS, klub-klub Arab Saudi muncul sebagai opsi paling serius berkat kekuatan finansial dan ketertarikan olahraga, sementara sejumlah tim MLS seperti Chicago Fire juga telah melakukan pendekatan dengan nilai yang jauh lebih rendah.
Lewandowski sendiri menegaskan belum mengambil keputusan dan menyebut dialog dengan Flick sebagai faktor penting, sembari mengulang pernyataannya bahwa “Masa depan masih terbuka.”
Lewandowski mungkin bermain lebih singkat, tetapi ia mencetak gol lebih cepat dan tetap menjadi penentu di laga-laga besar.
Menjelang fase krusial musim ini, gol-golnya berpotensi kembali menjadi fondasi Barcelona dalam perburuan gelar.***