JAKARTA – Di tengah maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK) yang melanda berbagai sektor industri, Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan mengungkapkan bahwa Indonesia akan menyambut lebih dari 67 ribu lapangan kerja baru pada akhir 2025.
Optimisme ini disampaikan dalam forum International Conference on Infrastructure (ICI) 2025 yang digelar di Jakarta.
“Pemutusan hubungan kerja (PHK) memang terjadi besar-besaran, tetapi kami prediksi nanti akan ada 67 ribu pekerjaan baru yang akan tersedia sebelum akhir tahun,” kata Luhut.
Menurut Luhut, peluang ini muncul seiring rencana dua perusahaan tekstil ternama dunia yang akan merelokasi operasional mereka ke Indonesia, menjadikan negeri ini sebagai pusat produksi baru dalam lanskap rantai pasok global yang tengah berubah.
Relokasi Industri Tekstil Global
Luhut tidak membeberkan nama dua perusahaan tekstil yang dimaksud, namun ia menegaskan bahwa peluang Indonesia untuk menarik investasi relokasi kian besar.
Menariknya, proyek relokasi ini dikabarkan akan lebih menyasar kota-kota kecil daripada kota metropolitan, langkah yang disebut mampu mempercepat pertumbuhan ekonomi di daerah.
Sebanyak 10 pabrik baru akan hadir di Jawa Tengah, menciptakan lebih dari 60 ribu lapangan kerja, tersebar di Brebes, Boyolali, Demak, Slawi, Batang, Kedungkelor, hingga Pekalongan.
Wilayah ini menjadi sentra baru pengembangan industri berbasis padat karya.
Dari Jawa Barat hingga Jawa Timur
Berdasarkan paparan Luhut, Jawa Barat juga akan mendapatkan limpahan investasi dengan hadirnya 11 pabrik yang menciptakan 5.469 lapangan kerja, tersebar di Cirebon, Majalengka, Subang, Purwakarta, Karawang, Cimahi, dan Bekasi.
Banten akan menyusul dengan 2 pabrik baru di Serang dan Tangerang, yang diperkirakan membuka 1.520 lowongan kerja. Sementara di Pleret, Jawa Timur, satu pabrik baru akan membuka 400 pekerjaan.
Proyeksi ini hadir saat Indonesia tengah menghadapi gelombang PHK. Data dari Kementerian Ketenagakerjaan menunjukkan bahwa per 20 Mei 2025, terdapat 26.455 kasus PHK, terbanyak terjadi di Jawa Tengah, Jakarta, dan Riau.
Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja, Indah Anggoro Putri, membenarkan bahwa lonjakan PHK masih menjadi tantangan besar bagi sektor ketenagakerjaan nasional.
Sementara itu, Apindo mencatat 73.992 kasus PHK terjadi sejak awal tahun hingga 10 Maret 2025, merujuk pada jumlah pekerja yang tidak lagi terdaftar sebagai peserta aktif BPJS Ketenagakerjaan.
Dorong Pemulihan Melalui Relokasi Industri
Meski angka PHK masih tinggi, pemerintah berharap masuknya investasi dari perusahaan global akan menjadi angin segar bagi pasar kerja nasional.
Selain membuka peluang baru, relokasi industri ini dinilai strategis dalam mempercepat pemerataan pembangunan dan menghidupkan ekonomi daerah.
Dengan strategi ini, pemerintah ingin menyeimbangkan kondisi pasar tenaga kerja, sekaligus mendorong kebangkitan ekonomi daerah melalui lapangan kerja baru yang berkelanjutan.***