MAKKAH – Di sebuah kompleks yang rindang oleh pepohonan kurma di kawasan Old Makkah Jeddah, Makkah, para pekerja dengan penuh ketelitian menyulam lembaran kain Kiswah yang kelak membalut Ka’bah, kiblat umat Islam sedunia. Di King Abdulaziz Complex for the Holy Kaaba Kiswa, segala proses produksi kiswah dilakukan sepenuhnya secara manual, tanpa melibatkan mesin sama sekali.
Puluhan pekerja duduk berhadapan, menyulam lembaran kain panjang di atas meja khusus yang dilapisi kain putih tebal dan ditopang balok kayu kokoh. Jemari mereka bekerja dengan hati-hati, memasukkan jarum dan benang ke setiap bagian sesuai pola, tanpa celah untuk kesalahan.
Untuk kiswah berukuran kecil, penyulaman cukup dilakukan oleh satu orang. Namun, untuk bagian kain yang panjang, dibutuhkan hingga empat orang penyulam. Di sekeliling ruangan, belasan meja serupa ditempati puluhan pekerja yang secara serempak mengerjakan proses yang sama.
Benang emas dan perak menjadi material utama sulaman. Gulungan benang itu disiapkan di atas meja, sementara di sudut ruangan seorang pekerja tampak dengan telaten menggulung benang secara manual—sebuah proses yang juga membutuhkan ketelitian tinggi.
Ahmad Abu Musaid, Manajer Kompleks Pembuatan Kiswah, mengungkapkan bahwa lembaga ini telah hampir seabad memproduksi kiswah secara eksklusif untuk Ka’bah. Ia menambahkan, “Pemerintah Saudi menyediakan biaya untuk membawa material-material berkualitas terbaik dari Jerman,” katanya, Rabu (4/6/2025), dilansir dari Antara.
Material utama kiswah terdiri atas sutra, benang emas, dan benang perak. Seluruh proses pembuatan memakan waktu sekitar 10 bulan, melibatkan 159 tenaga ahli, termasuk seorang karyawan senior yang telah bekerja lebih dari 45 tahun.
Desain kiswah dihiasi ayat-ayat Al-Qur’an seperti surah Al-Ikhlas dan lafaz Allahu Akbar pada bagian tertentu, termasuk titik di mana batu Hajar Aswad berada.
Setiap 1 Muharram, kain kiswah diganti. Kiswah baru ditarik perlahan dan dijahit pada setiap sudut Ka’bah, sementara kiswah lama dipotong dan dijadikan cenderamata resmi Kerajaan Arab Saudi yang diberikan kepada tamu-tamu kehormatan.
Tradisi Berabad-abad
Kebiasaan menutup Ka’bah dengan kain bukan tradisi baru. Sejarah mencatat, kiswah pertama kali digunakan sejak awal abad ke-5 M, jauh sebelum Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pada 610 M. Kala itu, Ka’bah ditutup dengan kain wol merah yang pembuatannya dibiayai oleh patungan suku-suku di Jazirah Arab.
Tradisi ini dipertahankan Nabi Muhammad SAW bahkan setelah pembebasan Makkah tahun 630 M. Penggantian kiswah dilanjutkan oleh para khalifah sepeninggal Nabi hingga kini.
Sempat diproduksi di Mesir, pembuatan kiswah mulai dialihkan ke Makkah sejak 1927 dan sepenuhnya dipusatkan di kota suci tersebut sejak 1962. Kini, kiswah berwarna dasar hitam dari kain sutra, dengan aksen tulisan berwarna emas dan perak, menjadikannya simbol kemegahan dan kesakralan yang tak tertandingi.