Memasuki hari keempat, Jumat (3/7/2026), krisis kebakaran hebat yang melanda Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, masih jauh dari kata usai. Walaupun kobaran api terbuka sudah tidak lagi mendominasi permukaan pada siang hari, kawasan ini telah berubah total menyerupai “perbukitan asap” yang pekat dan menyesakkan.
Gundukan sampah setinggi raksasa terus-menerus memuntahkan asap tebal dari sela-sela dan puncaknya. Situasi ini mengonfirmasi bahwa bahaya laten masih mengintai di bawah permukaan.
Bahaya Gas Metana: Siang Jadi Asap, Malam Jadi Api
Kepala Bidang Pemadaman dan Penyelamatan BPBD Kabupaten Tangerang, Ahmad Ruslan, memperingatkan masyarakat agar tidak terkecoh dengan hilangnya kobaran api besar di siang hari.
Reaksi gas metana di bawah timbunan sampah kering bertindak layaknya kompor alami. Begitu malam tiba dan pasokan angin berembus kencang, bara api yang bersembunyi di kedalaman biasanya akan kembali menyala dan memicu kobaran api terbuka di permukaan.
Menghadapi peliknya medan pertarungan darat, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) akhirnya turun tangan dengan meluncurkan operasi pemadaman dari udara sejak Jumat pagi.
BNPB menerjunkan dua unit helikopter pengebom air (water bombing). Helikopter menggempur titik-titik asap mulai pukul 08.00 hingga 11.00 WIB secara bergantian, sebelum akhirnya kembali ke pangkalan udara Pondok Cabe untuk beristirahat.
Krisis Akses: 18 Hektare Lahan TPA Ludes Terbakar
Skala kehancuran akibat bencana ini meningkat drastis. Hingga hari keempat, area terdampak kebakaran dilaporkan telah meluas hingga 15 sampai 18 hektar. Angka ini setara dengan 80 persen dari total keseluruhan luas lahan TPA Jatiwaringin yang mencapai 33 hektar.
Ruslan tidak menampik bahwa petugas damkar di lapangan benar-benar terkendala oleh dua faktor utama: luasnya area kebakaran dan sulitnya akses armada darat untuk merangsek masuk ke episentrum titik api di tengah gunungan sampah yang labil.
50 Personel Siaga 24 Jam Nonstop
Guna membendung perambatan api, benteng pertahanan darat diperkuat dengan menyiagakan 12 unit mobil pemadam kebakaran gabungan. Pasukan ini disokong penuh oleh unit damkar PLTU, Summarecon, Kota Tangerang, serta barisan relawan.
Secara keseluruhan, sekitar 50 personel pemadam kebakaran bersiaga penuh selama 24 jam dengan sistem rolling (bergantian) demi memantau pergerakan api secara dinamis. Meski menguras energi luar biasa sejak hari pertama (Selasa, 30/6/2026), Ruslan memastikan seluruh timnya dalam kondisi sehat walafiat.
“Kalau namanya asap skala kecil di TPA hampir setiap hari juga ada, cuman memang enggak sebesar ini. Kali ini luar biasa karena kemarin sempat terbakar kecil, tiba-tiba ada angin kencang, langsung merembet menjadi cepat besar,” pungkas Ruslan menutup penjelasannya.