Kasus kontaminasi racun cereulide pada susu formula bayi Nestle dan Danone (serta beberapa produsen lain seperti Lactalis) yang memicu penarikan massal di awal 2026 terjadi karena kombinasi faktor biologis, rantai pasok, dan kondisi pengolahan bahan baku yang memungkinkan bakteri Bacillus cereus berkembang dan menghasilkan toksin tersebut. Mengapa hal ini bisa terjadi?
1. Sumber Utama Kontaminasi: Bakteri Bacillus cereus yang Umum di Lingkungan
Bacillus cereus adalah bakteri yang sangat umum ditemukan di tanah, debu, air, dan bahan mentah nabati/hewani. Spore (endospora) bakteri ini sangat tahan terhadap panas, kekeringan, dan kondisi ekstrem, sehingga bisa bertahan dalam bahan baku kering seperti minyak atau bubuk yang digunakan untuk susu formula.
2. Bahan Baku yang Teridentifikasi sebagai Penyebab: Arachidonic Acid (ARA) Oil
Kontaminasi terutama berasal dari minyak arachidonic acid (ARA oil), bahan tambahan omega-6 yang ditambahkan ke susu formula untuk meniru komposisi ASI (membantu perkembangan otak dan mata bayi).
ARA oil sering diproduksi melalui proses fermentasi mikroba atau ekstraksi dari sumber nabati/minyak ikan. Spore Bacillus cereus bisa masuk selama tahap produksi, penyimpanan, atau pengolahan ARA oil dari pemasok ketiga (third-party supplier).
Beberapa laporan menyebutkan ARA oil yang sama dari pemasok (belum disebut namanya secara publik, tapi diduga dari China atau pemasok bersama) terkontaminasi, sehingga memengaruhi multiple brand seperti Nestle (S-26, NAN, dll.), Danone (Aptamil), Lactalis (Picot), dan lainnya.
3. Proses Produksi yang Memungkinkan Pertumbuhan Bakteri
Selama pengolahan bahan baku (misalnya saat ARA oil diekstrak atau dicampur), jika suhu, kelembaban, atau waktu penyimpanan tidak dikontrol ketat, spore Bacillus cereus bisa berkecambah dan menghasilkan cereulide.
Toksin ini bersifat lipofilik (suka lemak), sehingga mudah larut dan terakumulasi dalam minyak seperti ARA oil. Setelah tercampur ke formula, cereulide tetap ada karena tahan panas ekstrem (tidak hancur meski direbus atau diproses sterilisasi standar pabrik).
4. Kelemahan Deteksi dan Audit Rantai Pasok
Cereulide sulit dideteksi secara rutin karena level kontaminasi awal bisa sangat rendah, tapi tetap berbahaya bagi bayi (gejala muncul cepat: muntah hebat dalam 30 menit–6 jam).
Produsen besar seperti Nestle dan Danone mengandalkan pemasok eksternal untuk bahan khusus seperti ARA oil, dan audit kualitas mungkin tidak selalu menangkap strain Bacillus cereus yang memproduksi cereulide.
Kasus ini menunjukkan risiko rantai pasok global yang panjang, di mana satu pemasok bermasalah bisa memengaruhi banyak merek dan negara.
5. Faktor Lain yang Memperburuk
Proses pengeringan semprot (spray drying) pada produksi susu formula tidak cukup untuk menghancurkan cereulide yang sudah terbentuk. Selain itu, karena produk akhir kering dan stabil, kontaminasi bisa tetap “tersembunyi” hingga diuji lab atau muncul laporan gejala pada bayi.
Secara keseluruhan, kasus ini terjadi karena Bacillus cereus yang ubiquitous (ada di mana-mana) berhasil memproduksi cereulide pada bahan baku ARA oil dari pemasok bersama, lalu toksin tahan panas itu lolos ke produk akhir meskipun pabrik menerapkan standar tinggi.
Ini menjadi pelajaran besar bagi industri makanan bayi untuk memperketat pengawasan pemasok, pengujian toksin spesifik, dan diversifikasi sumber bahan baku agar kejadian serupa tidak terulang. BPOM dan regulator global kini mendorong audit lebih ketat pada bahan tambahan seperti ARA oil.