Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa resmi melantik 36 Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama (Eselon II) di lingkungan Kementerian Keuangan, Rabu (28/1/2026) sore. Dari jumlah tersebut, mayoritas berasal dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC), yakni sebanyak 31 pejabat.
Pelantikan yang digelar di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, merupakan tindak lanjut Keputusan Menteri Keuangan Nomor 36 Tahun 2026 tentang Mutasi dan Pengangkatan Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama. Sebanyak 27 pejabat dilantik hari ini, sementara sembilan pejabat lainnya dijadwalkan menyusul pada 2 Februari 2026.
Purbaya menegaskan, perombakan besar-besaran ini merupakan bentuk “shock therapy” untuk mendorong perbaikan kinerja, integritas, dan kualitas pelayanan Bea Cukai.
“Kalau saya cuma ngomong saja, enggak akan gerak. Sekarang saya shock yang besar-besar,” ujarnya.
Rotasi jabatan difokuskan pada wilayah strategis yang memiliki peran penting dalam arus perdagangan nasional, seperti Pelabuhan Tanjung Priok, Batam, Semarang, Surabaya, hingga Bali. Menurut Purbaya, perubahan ini diharapkan mampu menghadirkan kinerja yang lebih optimal di lapangan.
“Tanjung Priok saya pindahin, Batam saya pindah. Semarang, Surabaya, Bali. Saya harapkan nanti bisa bekerja lebih baik lagi,” katanya.
Sebagai bendahara negara, Purbaya menekankan bahwa Bea Cukai harus berada di garis depan dalam menjaga pasar domestik, terutama dari praktik persaingan tidak sehat akibat masuknya barang ilegal atau selundupan dari luar negeri.
Tak hanya itu, ia juga memberi peringatan tegas kepada para pejabat yang baru dilantik. Seluruh kinerja mereka akan dipantau secara ketat.
“Ke depan kita tidak boleh main-main lagi. Kalau ada hal yang mengecewakan, jangan main-main, saya akan atur ulang lagi,” tegasnya.
Purbaya menyadari, rotasi jabatan kerap menimbulkan dinamika internal. Namun ia menilai, perubahan ini justru menjadi modal awal untuk bekerja dengan pikiran jernih dan niat yang tulus.
“Mungkin ada yang kesel, ‘kenapa gue pindah’. Tapi ini justru modal awal untuk bekerja lebih baik,” ujarnya.
Ia menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa reformasi di tubuh Bea Cukai merupakan bagian penting dari upaya perbaikan ekonomi nasional secara menyeluruh.
“Kalau kita ingin naik kelas sebagai negara maju, kita tidak bisa puas dengan kondisi yang gini-gini saja,” pungkas Purbaya.