Menteri Keuangan Indonesia Purbaya Yudhi Sadewa membela fundamental ekonomi nasional di tengah gejolak pasar yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Menanggapi peringatan dari penyedia indeks global MSCI Inc. terkait potensi penurunan peringkat pasar Indonesia, Purbaya justru menilai langkah tersebut sebagai sinyal positif yang dapat menjadi pemicu perbaikan struktural pasar modal.
Berbicara dalam sebuah forum bisnis di Jakarta, Selasa, Purbaya mengatakan kepada Bloomberg TV bahwa penurunan tajam pasar saham pekan lalu lebih tepat dipandang sebagai gejolak sementara, bukan indikasi kehancuran ekonomi.
Dengan nada ringan, ia bahkan berseloroh bahwa sentimen investor akan membaik begitu pasar menyadari bahwa dirinya kini memimpin kebijakan fiskal Indonesia.
Gejolak Pasar Pangkas Nilai $80 Miliar
Pernyataan tersebut muncul setelah MSCI pada 28 Januari memutuskan untuk membekukan seluruh perubahan indeks positif bagi sekuritas Indonesia. MSCI menyoroti adanya ketidakjelasan struktur kepemilikan saham serta kekhawatiran terhadap potensi perilaku perdagangan terkoordinasi yang dinilai dapat mengganggu mekanisme pembentukan harga yang wajar.
Peringatan ini membuka kemungkinan penurunan status Indonesia dari pasar emerging menjadi frontier, yang akan menempatkannya sejajar dengan negara-negara seperti Bangladesh, Pakistan, dan Vietnam.
Tekanan tersebut memicu aksi jual besar-besaran di pasar saham. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Jakarta anjlok hingga 16 persen dalam dua hari, memicu penghentian perdagangan sementara dan menghapus nilai pasar sekitar US$80 miliar.
Pada perdagangan Senin, indeks kembali melemah 4,9 persen ke level 7.923 poin, bersamaan dengan pertemuan regulator Indonesia dan perwakilan MSCI untuk membahas isu transparansi kepemilikan dan persyaratan free-float.
Sejumlah lembaga keuangan global merespons negatif perkembangan tersebut. Goldman Sachs menurunkan peringkat saham Indonesia menjadi underweight dan memperingatkan potensi arus keluar modal hingga US$7,8 miliar jika penurunan status benar-benar terjadi. UBS juga menurunkan rekomendasinya menjadi neutral.
Pejabat Regulator Mundur, Reformasi Dijanjikan
Krisis pasar turut memicu gelombang pengunduran diri pejabat regulator pada 30 Januari. CEO Bursa Efek Indonesia Iman Rachman mengundurkan diri dengan menyebut langkah itu sebagai bentuk pertanggungjawaban atas kondisi pasar.
Beberapa jam berselang, Ketua Otoritas Jasa Keuangan Mahendra Siregar bersama sejumlah pejabat senior juga mundur, dengan alasan tanggung jawab moral untuk mendukung proses pemulihan.
Sebagai respons, pemerintah dan regulator berjanji mempercepat reformasi. Langkah yang disiapkan antara lain menaikkan persyaratan free-float minimum perusahaan tercatat dari 7,5 persen menjadi 15 persen, serta memperketat aturan keterbukaan informasi bagi pemegang saham dengan kepemilikan di bawah 5 persen.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan komitmen pemerintah terhadap reformasi pasar, sembari menekankan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap solid.
Kekhawatiran terhadap Arah Kebijakan
Meski demikian, peringatan MSCI memperdalam kekhawatiran investor terhadap arah pengelolaan ekonomi di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Kepercayaan pasar sempat terguncang setelah penunjukan Thomas Djiwandono, keponakan presiden, sebagai deputi gubernur bank sentral pada Januari—menyusul pemecatan mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang sangat dihormati pasar.
Situasi tersebut turut menekan nilai tukar rupiah hingga mendekati Rp 16.985 per dolar AS, level terendah dalam beberapa periode terakhir.
Purbaya, yang dilantik sebagai Menteri Keuangan pada September 2025, mengakui bahwa meskipun pemerintah berkomitmen untuk menjaga independensi bank sentral semaksimal mungkin, kekhawatiran pasar tetap ada, terutama terkait potensi ekspansi fiskal dan target ambisius pertumbuhan ekonomi 8 persen.
MSCI menyatakan akan meninjau kembali status pasar Indonesia pada Mei 2026, dengan catatan harus ada kemajuan material dalam reformasi transparansi dan tata kelola pasar modal.
