JAKARTA – Menteri Luar Negeri Belgia, Maxime Prévot berada di kedutaan Belgia di Beirut, Lebanon, Rabu (8/4/2026), ketika militer Israel melancarkan serangan udara hanya beberapa ratus meter dari lokasi tersebut.
Dilansir Belgia News Agency, Kamis (9/4/2026), Prévot mengaku “sangat terkejut” oleh “salah satu hari paling berdarah yang dialami Libanon dalam beberapa waktu terakhir.” Sedikitnya 254 orang tewas dan ribuan lainnya terluka akibat serangan yang menembakkan sekitar seratus rudal dalam enam menit. Lima ledakan mengguncang ibu kota, disertai kepulan asap hitam yang terlihat dari istana presiden, tempat Prévot juga menjadi tamu.
“Kami yakin bahwa perlu untuk datang ke sini untuk menyatakan dukungan kami. Kami sangat terkejut dan turut merasakan emosi negara dan rakyatnya,” ujar Prévot usai bertemu Presiden Joseph Aoun dan Perdana Menteri Nawaf Salam.
Media lokal menggambarkan suasana Beirut penuh kekacauan: bangunan terbakar, mobil hangus, anak-anak tewas, hingga warga yang kehilangan anggota tubuh. Israel menyebut serangan itu sebagai “serangan terkoordinasi terbesar” terhadap Hizbullah sejak perang dimulai Maret lalu.
Israel menegaskan gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat tidak berlaku untuk Lebanon. Presiden AS Donald Trump menyampaikan hal serupa kepada PBS. Namun, Pakistan sebagai mediator menekankan bahwa kesepakatan gencatan senjata berlaku “di mana-mana,” termasuk Lebanon.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menyerukan agar semua pihak menahan diri. “Saya dengan sungguh-sungguh dan tulus mendesak semua pihak untuk menahan diri dan menghormati gencatan senjata selama dua pekan, sebagaimana disepakati, sehingga diplomasi dapat memainkan peran utama menuju penyelesaian konflik secara damai,” katanya.
Iran mengancam akan menarik diri dari perjanjian jika Israel terus melancarkan serangan ke Lebanon.