JAKARTA – Di era media sosial dan video platform media sosial, konten mukbang menjadi salah satu tayangan yang sangat populer. Video ini biasanya menampilkan seseorang yang makan dalam porsi besar atau mencicipi berbagai jenis makanan sambil berinteraksi dengan penonton. Saat bulan Ramadan tiba, sebagian orang tetap menikmati konten tersebut, sementara yang lain mempertanyakan dampaknya terhadap ibadah puasa.
Apakah menonton mukbang saat puasa dapat mengganggu ibadah, atau sebenarnya tidak berpengaruh?
Hukum Menonton Mukbang Saat Puasa
Dalam fiqih Islam, hal-hal yang membatalkan puasa pada dasarnya berkaitan dengan masuknya sesuatu ke dalam tubuh secara sengaja, seperti makan dan minum, serta perbuatan lain yang telah ditentukan dalam syariat. Menonton video makanan, termasuk mukbang, tidak termasuk dalam kategori tersebut karena tidak ada aktivitas konsumsi yang dilakukan oleh penonton.
Artinya, secara hukum, menonton mukbang tidak membatalkan puasa. Puasa seseorang tetap sah selama ia tidak makan, minum, atau melakukan hal-hal lain yang secara jelas membatalkan puasa. Namun, pembahasan tidak berhenti pada sah atau tidaknya puasa. Dalam Islam, kualitas puasa juga diukur dari sejauh mana seseorang mampu menjaga diri dari hal-hal yang dapat mengurangi nilai ibadahnya.
Puasa dan Pengendalian Diri
Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga melatih pengendalian diri. Dalam ajaran Islam, umat Muslim dianjurkan menjaga pandangan, ucapan, dan perilaku selama berpuasa. Menonton video yang menampilkan makanan lezat dalam jumlah besar bisa memicu rasa lapar yang lebih kuat, terutama saat tubuh sedang dalam kondisi menahan asupan.
Secara spiritual, jika tontonan tersebut membuat seseorang semakin tergoda, gelisah, atau sulit fokus dalam beribadah, maka aktivitas itu bisa dinilai kurang bijak. Bukan karena haram atau membatalkan puasa, melainkan karena berpotensi mengurangi kekhusyukan dan tujuan utama puasa itu sendiri.
Beberapa ulama menjelaskan bahwa sesuatu yang pada dasarnya mubah (boleh) bisa menjadi makruh (tidak dianjurkan) jika dilakukan secara berlebihan atau memicu hal negatif. Dalam konteks ini, menonton mukbang dapat menjadi kurang dianjurkan apabila hanya bertujuan memuaskan hasrat melihat makanan, tanpa manfaat yang jelas.
Dampak Psikologis Melihat Konten Makanan
Dari sisi psikologi dan ilmu kesehatan, melihat makanan dapat memicu respons biologis yang disebut cephalic phase response. Respons ini adalah reaksi awal tubuh terhadap rangsangan makanan, seperti melihat atau mencium aroma makanan, yang dapat merangsang produksi air liur dan asam lambung. Penelitian dalam bidang nutrisi menunjukkan bahwa paparan visual terhadap makanan dapat meningkatkan keinginan makan dan rasa lapar, bahkan tanpa konsumsi langsung.
Beberapa studi tentang perilaku digital juga menemukan bahwa paparan berulang terhadap konten makanan di media sosial dapat memengaruhi pola makan dan meningkatkan food craving (keinginan kuat terhadap makanan tertentu). Meskipun penelitian tersebut tidak secara khusus meneliti orang yang sedang berpuasa, temuan ini relevan karena saat berpuasa tubuh berada dalam kondisi sensitif terhadap rangsangan makanan.
Artinya, secara fisiologis, menonton mukbang dapat membuat rasa lapar terasa lebih intens. Hal ini bukan membatalkan puasa, tetapi bisa membuat seseorang merasa lebih berat menjalani ibadahnya.
Niat dan Tujuan Menonton
Dalam Islam, niat memiliki peran penting dalam menentukan nilai suatu perbuatan. Jika seseorang menonton mukbang dengan tujuan mencari inspirasi menu berbuka atau sahur, maka aktivitas tersebut bisa dipandang sebagai sesuatu yang netral atau bahkan bermanfaat. Namun, jika tujuannya semata-mata untuk menikmati sensasi melihat orang makan dalam jumlah besar hingga memicu hawa nafsu, maka hal itu berpotensi mengurangi nilai spiritual puasa.
Puasa melatih kesabaran dan empati terhadap orang yang kekurangan. Ketika seseorang justru sengaja mencari tontonan yang memperkuat fokus pada makanan, ia mungkin kehilangan esensi latihan pengendalian diri yang menjadi inti puasa.
Bijak Mengelola Konsumsi Konten
Di era digital, menghindari konten makanan sepenuhnya mungkin sulit. Algoritma video platform sering menampilkan rekomendasi berdasarkan kebiasaan menonton pengguna. Namun, setiap individu tetap memiliki kendali untuk memilih apa yang ingin ditonton.
Jika merasa tontonan mukbang membuat lapar semakin berat atau mengganggu konsentrasi ibadah, sebaiknya mengurangi atau menunda menontonnya hingga waktu berbuka. Sebaliknya, jika seseorang merasa tidak terganggu dan tetap mampu menjaga fokus ibadah, maka tidak ada larangan khusus secara hukum.
Mengisi waktu puasa dengan konten yang mendukung spiritualitas seperti kajian agama, tilawah Al-Qur’an, atau diskusi inspiratif tentu lebih selaras dengan semangat Ramadan. Namun, keputusan akhir tetap bergantung pada kesadaran pribadi dan kemampuan mengendalikan diri.