KAIRO, MESIR – Situasi geopolitik Timur Tengah kembali memanas setelah Mesir mengungkapkan kecurigaan serius terhadap Israel yang diduga merencanakan serangan ke ibu kotanya, Kairo.
Berdasarkan laporan intelijen rahasia, langkah ini konon diambil dengan dalih memburu pemimpin Hamas, mirip dengan serangan udara Israel ke Doha, Qatar, yang menuai kecaman global.
Pengungkapan ini tidak hanya mengancam stabilitas regional, tetapi juga menyoroti kerapuhan hubungan diplomatik antara kedua negara tetangga.
Menurut sumber intelijen Mesir, rencana Israel ini muncul pasca-serangan ke Doha pada Selasa pekan lalu, di mana Israel mengklaim menargetkan tokoh-tokoh kunci Hamas.
Seorang pejabat Mesir menyatakan bahwa intelijen mereka menangkap indikasi kuat bahwa, serupa dengan kasus Qatar, Israel berpotensi mengarahkan rudal atau operasi militer ke wilayah Kairo untuk menangkap atau menyerang anggota Hamas yang diduga bersembunyi di sana.
Hubungan diplomatik antara Israel dan Mesir yang telah lama tegang semakin memburuk belakangan ini, terutama akibat ketidakjelasan sikap Israel soal kemungkinan gencatan senjata di Gaza.
Beberapa anggota Hamas memang diketahui telah tinggal di Kairo selama bertahun-tahun, bahkan sebelum konflik Gaza meletus pada Oktober 2023. Namun, Mesir menegaskan peran netralnya sebagai mediator dalam negosiasi damai antara Israel dan Palestina, tanpa ada agenda melindungi kelompok militan tersebut.
Seorang pejabat senior Mesir berbicara kepada Middle East Eye (MEE) tentang kekhawatiran mendalam atas ambisi Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.
Ia mengungkapkan bahwa Netanyahu diduga ingin memperluas operasi militer ke negara-negara lain yang menjadi tempat persembunyian Hamas.
Meski Israel belum mengonfirmasi rencana apa pun terhadap Kairo, laporan intelijen Mesir menunjukkan pola serangan yang mirip, yang bisa memicu eskalasi konflik lebih luas di kawasan.
Dalam konteks yang lebih luas, serangan ke Doha telah memicu reaksi internasional, termasuk kecaman dari berbagai pihak atas pelanggaran kedaulatan negara ketiga. Mesir, sebagai negara kunci di Liga Arab, kini berada di posisi sulit: menjaga perbatasan aman sambil memfasilitasi dialog perdamaian.
Analis regional memperingatkan bahwa jika kecurigaan ini terbukti, hal itu bisa merusak upaya diplomatik jangka panjang dan memicu instabilitas baru di Sinai serta perbatasan Gaza.
“Laporan tersebut mengatakan bahwa Israel berencana untuk menyerang Kairo dengan dalih menargetkan Hamas,” ujar pejabat Mesir yang tidak ingin disebut namanya.
Lebih lanjut, pejabat senior itu menekankan dampak potensial terhadap rakyat sipil.
“Segala bentuk penyerangan dengan dalih menargetkan pemimpin Hamas akan kami anggap sebagai kekerasan kepada warga Mesir. Ini juga merupakan sebuah ancaman bagi Mesir,” tutur pejabat senior Mesir.
Sumber lain menyoroti dinamika bilateral yang semakin rumit. “Hubungan antara Israel dan Mesir kian memanas akhir-akhir ini karena Israel memberikan sinyal yang tidak jelas atas gencatan senjata,” ujar sumber tersebut.
Mesir dengan tegas membantah tuduhan perlindungan terhadap Hamas. “Mesir tidak melindungi Hamas,” tegas sumber tersebut.
Hingga kini, pihak Israel belum memberikan tanggapan resmi atas tuduhan ini. Namun, pengembangan situasi ini terus dipantau oleh komunitas internasional, termasuk PBB, yang mendesak kedua belah pihak untuk menahan diri guna mencegah perang regional yang lebih besar.
Mesir sendiri telah meningkatkan kewaspadaan militer di sekitar Kairo dan perbatasan, sambil terus mendorong jalur diplomatik sebagai solusi utama.