Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memerintahkan penghentian sementara distribusi salah satu batch susu formula bayi milik PT Nestlé Indonesia sebagai langkah kehati-hatian, menyusul penarikan produk global Nestlé terkait potensi kontaminasi toksin.
BPOM menginstruksikan perusahaan untuk menghentikan peredaran S-26 Promil Gold pHPro 1 yang ditujukan bagi bayi hingga usia enam bulan. Keputusan ini diambil setelah BPOM menerima notifikasi dari sistem peringatan keamanan pangan Uni Eropa, meskipun hasil uji laboratorium di Indonesia menunjukkan produk tersebut tidak mengandung toksin cereulide.
Kepala BPOM Taruna Ikrar menegaskan bahwa langkah ini merupakan penerapan prinsip kehati-hatian, mengingat konsumen produk tersebut adalah bayi.
“Meskipun hasil pengujian menunjukkan produk aman, BPOM tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian karena sasaran konsumennya adalah bayi,” ujar Taruna Ikrar dalam keterangan resmi.
BPOM juga memastikan hingga saat ini tidak ada laporan kasus gangguan kesehatan yang terkonfirmasi di Indonesia terkait konsumsi produk tersebut.
Respons Regional Beragam
Langkah Indonesia sejalan dengan sejumlah negara Asia yang turut mengambil tindakan pencegahan. Otoritas kesehatan Hong Kong melaporkan menerima 27 notifikasi dugaan ketidaknyamanan ringan pada bayi setelah penarikan sukarela 22 batch susu formula bayi NAN dan Wyeth oleh Nestlé Hong Kong.
Namun, pejabat setempat menekankan bahwa seluruh gejala bersifat ringan, seperti muntah satu hingga dua kali atau buang air besar encer, dan tidak konsisten dengan keracunan akut akibat toksin cereulide. Penyelidikan juga tidak menemukan bukti keterkaitan langsung antara gejala tersebut dengan kontaminasi bakteri Bacillus cereus.
Sementara itu, Badan Pangan Singapura memerintahkan penghentian penjualan lima batch susu formula Nestlé NAN pada 8 Januari, meski produk tersebut telah lebih dulu ditarik dari peredaran sejak akhir Desember sebagai langkah pencegahan. Di Filipina, otoritas setempat masih melakukan penyelidikan atas penarikan sukarela produk NAN Optipro dan Nankid Optipro, tanpa laporan insiden kesehatan sejauh ini.
Penarikan Global dan Penjelasan Nestlé
Penarikan produk Nestlé secara global dipicu oleh temuan toksin cereulide dalam minyak asam arakidonat yang dipasok oleh pihak ketiga ke fasilitas produksi perusahaan. Cereulide merupakan toksin tahan panas yang dihasilkan oleh strain tertentu bakteri Bacillus cereus dan tidak dapat dihancurkan melalui proses memasak atau perebusan biasa.
CEO Nestlé, Philipp Navratil, telah menyampaikan permohonan maaf atas penarikan produk tersebut. Ia menegaskan bahwa hingga kini belum ada kasus penyakit yang terkonfirmasi akibat produk-produk yang ditarik.
Penarikan yang dimulai pada Desember di fasilitas Nestlé di Belanda kini telah meluas ke lebih dari 50 negara di enam benua, dengan sejumlah merek terdampak, antara lain SMA, BEBA, NAN, Wyeth, dan Alfamino, tergantung negara masing-masing.
