JAKARTA – Ratusan pemuda berkumpul di Perpustakaan Nasional RI, Jakarta, untuk membahas kontribusi generasi muda dalam mendukung pencapaian target pembangunan berkelanjutan (SDGs).
Pembahasan tersebut berlangsung dalam forum GEN SDGs IYC: Sumpah Pemuda Edition 2026 yang digelar International Youth Connection (IYC). Kegiatan ini menjadi ruang bagi mahasiswa dan aktivis komunitas untuk bertukar gagasan, memperluas kolaborasi, serta merumuskan solusi atas berbagai persoalan pembangunan di Indonesia.
Mengusung tema “Generasi Beraksi: Mewujudkan SDGs melalui Kolaborasi dan Inovasi Pemuda Indonesia”, forum tersebut juga menjadi momentum untuk mendorong generasi muda menerjemahkan semangat Sumpah Pemuda ke dalam kontribusi nyata bagi masyarakat.
Salah satu agenda utama kegiatan ini adalah Talk Show Inspirasi yang menghadirkan tiga pembicara dari latar belakang berbeda, yakni Kepala Bumi Perkemahan dan Graha Wisata Cibubur Budy Sugandi, Komisaris Waskita sekaligus Ketua Pimpinan Pusat GP Ansor Muhammad Abdullah Syukri atau Gus Abe, serta Anggota DPR RI Rina Sa’adah.
Dalam diskusi tersebut, para pembicara menyoroti sejumlah isu yang berkaitan dengan peran generasi muda, mulai dari pengembangan kapasitas diri, pemanfaatan bonus demografi, hingga regenerasi petani dan ketahanan pangan.
Budy Sugandi menilai, pengembangan potensi pemuda perlu didukung lingkungan yang memberi ruang bagi mereka untuk belajar, berinovasi, dan mengembangkan kepemimpinan. Dukungan tersebut dinilai penting agar generasi muda mampu menghasilkan gagasan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
“Lingkungan yang mendukung proses belajar, pembentukan karakter, penguatan kepemimpinan, serta kolaborasi merupakan bekal utama bagi pemuda untuk menjawab tantangan masa depan dan memberi dampak yang lebih luas,” ungkap Budy.
Selain penguatan kapasitas, kesiapan generasi muda dalam menghadapi tantangan pembangunan juga menjadi perhatian Gus Abe. Ia mengingatkan bahwa semangat Sumpah Pemuda tidak cukup dimaknai sebagai peringatan sejarah, tetapi perlu diwujudkan melalui tindakan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Menurut dia, bonus demografi harus diimbangi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia dan perluasan kesempatan bagi generasi muda untuk berkontribusi.
“Inovasi, pendampingan lintas generasi, serta kolaborasi nyata di daerah masing-masing adalah kunci untuk menggerakkan perubahan,” ujar Gus Abe.
Sementara itu, Rina Sa’adah menyoroti pentingnya keterlibatan generasi muda dalam memperkuat ketahanan pangan, terutama melalui regenerasi petani dan modernisasi sektor pertanian.
Ia menilai, pemanfaatan teknologi tepat guna serta pengembangan potensi lokal dapat menjadi langkah untuk mendorong anak muda terlibat lebih aktif dalam sektor pertanian. Upaya tersebut juga perlu didukung kolaborasi dengan petani senior yang memiliki pengalaman dalam mengelola usaha pertanian.
“Pemuda perlu hadir membawa inovasi berbasis teknologi dan potensi daerah. Kolaborasi dengan para petani berpengalaman akan menjembatani kesenjangan antargenerasi di sektor pertanian,” jelas Rina.
Gagasan dari para pembicara dan peserta selanjutnya dikelompokkan ke dalam lima klaster SDGs, yakni People, Planet, Prosperity, Peace, dan Partnership. Pengelompokan ini menjadi bagian dari upaya menyusun inisiatif yang sesuai dengan berbagai aspek pembangunan berkelanjutan.
Melalui forum tersebut, berbagai gagasan yang muncul diharapkan dapat dikembangkan menjadi inisiatif yang terukur dan relevan dengan kebutuhan masyarakat di daerah masing-masing.
Kolaborasi antarpemuda, dukungan lintas generasi, serta pemanfaatan inovasi menjadi sejumlah hal yang mengemuka dalam diskusi tersebut. Dengan demikian, keterlibatan generasi muda dalam agenda SDGs tidak berhenti pada pertukaran gagasan, tetapi diarahkan pada kontribusi yang dapat diterapkan di lingkungan mereka.