JAKARTA – Langkah Indonesia menerbitkan Panda Bonds untuk pertama kali dinilai menjadi strategi penting dalam memperkuat sumber pembiayaan negara di tengah dinamika pasar global.
Pemerintah berhasil menghimpun dana 7 miliar yuan atau sekitar 1,033 miliar dolar AS melalui obligasi negara berdenominasi yuan yang diterbitkan pada 23 Juli 2026.
Instrumen tersebut memperluas pilihan pendanaan pemerintah sekaligus mengurangi ketergantungan pada pasar obligasi konvensional yang rentan terhadap gejolak eksternal.
Lead Economist Bank Danamon Indonesia Irman Faiz menilai penerbitan Panda Bonds menjadi terobosan yang memperkaya diversifikasi pembiayaan Indonesia.
Menurutnya, akses ke pasar obligasi domestik China memberi pemerintah ruang lebih fleksibel dalam mengelola kebutuhan pembiayaan jangka menengah dan panjang.
“Dari sisi kerja sama, Panda Bonds memperdalam integrasi pasar keuangan Indonesia dan China dengan memperluas basis investor, meningkatkan akses ke likuiditas renminbi, serta mendukung penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral,” ujar Irman dikutip dari Antara, Selasa (28/7/2026).
Ia menilai keberhasilan penerbitan perdana ini dapat menjadi pijakan bagi Indonesia untuk membangun reputasi yang lebih kuat di pasar obligasi China Daratan.
Meski demikian, Irman mengingatkan penerbitan obligasi valas tetap harus mempertimbangkan kebutuhan pembiayaan serta efisiensi biaya.
Frekuensi penerbitan, menurutnya, tidak seharusnya hanya didorong besarnya minat investor terhadap instrumen tersebut.
Keberhasilan transaksi ini juga menunjukkan tingginya minat investor domestik China terhadap surat utang pemerintah Indonesia.
Bank of China yang bertindak sebagai lead underwriter dan lead bookrunner menyebut transaksi tersebut mencerminkan kuatnya daya tarik pasar keuangan China.
Panda Bonds diterbitkan dalam dua seri dengan tenor tiga tahun senilai 5,6 miliar yuan dan tenor lima tahun sebesar 1,4 miliar yuan.
Obligasi tenor tiga tahun menawarkan kupon 1,9 persen, sedangkan tenor lima tahun memberikan kupon sebesar 2,19 persen.
Seluruh instrumen memperoleh peringkat AAA (Stable) dari China Lianhe Credit Rating Co., Ltd., memperkuat kepercayaan investor terhadap penerbitan tersebut.
Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan menyatakan respons investor sangat positif sejak masa penawaran.
Antusiasme itu terlihat dari rasio bid-to-cover mencapai 2,4 kali dengan nilai orderbook yang sempat menyentuh sekitar 17 miliar yuan.
Capaian tersebut memperlihatkan tingginya permintaan investor terhadap instrumen utang Indonesia di pasar keuangan China.
Keberhasilan Panda Bonds diyakini menjadi fondasi penting bagi pemerintah dalam memperluas sumber pembiayaan yang lebih beragam dan kompetitif.***