JAKARTA – Sebuah patung menyerupai Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, digantung di sebuah derek konstruksi (carane) di kota Trabzon, wilayah Laut Hitam, Turkiye, pad Sabtu (25/20/2025). Aksi tersebut memicu kemarahan di Israehl dan memperburuk ketegangan diplomatik antara kedua negara.
Menurut laporan media setempat, insiden itu diorganisir oleh Kemal Saglam, profesor komunikasi visual di sebuah universitas lokal. Ia menjelaskan bahwa tindakan tersebut bersifat simbolis dan bertujuan untuk menarik perhatian terhadap dugaan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di Gaza.
Gambar yang beredar luas di media sosial dan dipublikasikan oleh harian Yeni Safak menunjukkan patung Netanyahu tergantung di derek dengan spanduk bertuliskan “Hukuman mati untuk Netanyahu.”
Kementerian Luar Negeri Israel melalui akun resminya di X (Twitter) mengecam keras tindakan tersebut. Dalam unggahannya, Israel menuduh sang akademisi membuat patung itu dengan dukungan penuh dari sebuah perusahaan milik negara.
“Otoritas Turki tidak mengecam perilaku memalukan ini,” tulis Kementerian Luar Negeri Israel.
“Pihak berwenang Turki belum menyangkal perilaku tercela ini. Di Turki di bawah Erdoğan, kebencian dan antisemitisme tidak dikutuk. Melainkan dirayakan,” tambah pernyataan itu.
Hingga saat ini, pemerintah Turki belum memberikan tanggapan resmi atas kecaman tersebut.
Hubungan diplomatik antara Israel dan Turki memang telah lama tegang, dan memburuk sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Presiden Recep Tayyip Erdoğan secara terbuka menuduh Netanyahu melakukan genosida di Gaza dan mendesak Amerika Serikat untuk menekan Israel melalui sanksi serta larangan penjualan senjata.
Turki juga diketahui terlibat aktif dalam upaya gencatan senjata serta negosiasi pembebasan sandera Israel, dengan beberapa laporan menyebut pengaruh Ankara terhadap Hamas membantu memfasilitasi rencana perdamaian 20 poin yang diusulkan Presiden AS Donald Trump.
Sementara itu, Netanyahu menegaskan bahwa Israel akan memutuskan sendiri pasukan asing mana yang dapat terlibat dalam misi internasional di Gaza untuk menjaga gencatan senjata berdasarkan rencana tersebut. Ia juga mengisyaratkan penolakannya terhadap kemungkinan keterlibatan pasukan keamanan Turki dalam misi tersebut.
