Pemerintah dan dunia internasional kembali memusatkan perhatian pada konflik perbatasan antara Thailand dan Kamboja. Langkah terbaru adalah dijadwalkannya perundingan gencatan senjata yang akan digelar di Malaysia. Peristiwa ini berlangsung setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengancam tidak akan melakukan kesepakatan dagang dengan kedua negara tersebut hingga konflik benar-benar berakhir.
Perundingan dijadwalkan berlangsung pada hari Senin mendatang, dengan melibatkan langsung pemimpin Thailand dan Kamboja.
Konflik yang berlangsung di kawasan Asia Tenggara ini semakin memanas setelah sejumlah serangan udara dilaporkan terjadi. Sebuah video memperlihatkan pesawat tempur Saab JAS 39 Gripen milik Angkatan Udara Kerajaan Thailand melintas di atas permukiman dan melancarkan serangan ke wilayah Kamboja. Kondisi ini telah menarik perhatian kekuatan adidaya dunia.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melalui unggahan di media sosial Truth Social, menyatakan ancamannya bahwa Amerika Serikat tidak akan menandatangani kesepakatan dagang dengan Thailand dan Kamboja hingga pertempuran dihentikan. Trump juga mengungkapkan telah melakukan komunikasi terpisah dengan kedua pemimpin negara tersebut, dan menegaskan bahwa keduanya menginginkan gencatan senjata segera.
Menurut pemerintah Thailand, perundingan akan dipimpin oleh Penjabat Perdana Menteri Thailand, Phumtham Wechayachai, sebagai respons atas undangan Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim. Mediasi ini diharapkan menjadi langkah penting untuk menyelesaikan konflik dan membahas perdamaian di kawasan.
Sementara itu, Perdana Menteri Kamboja, Hun Manet, menyatakan kesiapan negaranya untuk melakukan gencatan senjata tanpa syarat dan berpartisipasi aktif dalam perundingan tersebut. Ia juga mengonfirmasi bahwa perundingan diselenggarakan oleh Malaysia dengan dukungan Amerika Serikat dan kehadiran Tiongkok sebagai partisipan. Tiongkok diketahui merupakan sekutu dekat Kamboja yang sejak awal mendorong penyelesaian damai.
Dilaporkan dari Associated Press, konflik ini telah menewaskan 35 orang dan memaksa lebih dari 218.000 penduduk mengungsi. Perundingan gencatan senjata yang dijadwalkan berlangsung pada pukul 15.00 waktu setempat diharapkan dapat menghentikan kekerasan dan memberikan jalan menuju perdamaian.
Caption | Admin: Raihana