Suara dentuman keras menggema di permukiman padat Jatipulo, Palmerah, Jakarta Barat, Minggu sore (16/11/2025) pukul 16.25 WIB. Tak disangka, ledakan itu menjadi awal dari bencana kebakaran hebat yang melahap puluhan rumah warga.
Dalam hitungan jam, api merambat cepat, menghanguskan sekitar 50-57 unit rumah tinggal, melukai 14 warga, dan memaksa ratusan jiwa mengungsi. Insiden ini bukan hanya ujian bagi warga setempat, tapi juga pengingat akan risiko listrik di kawasan urban yang semakin padat.
Kronologi Singkat: Dari Dentuman Kabel hingga Amukan Si Jago Merah
Kebakaran bermula di Jalan Pelita VIII RT 09/04, Kelurahan Jatipulo, Kecamatan Palmerah. Menurut kesaksian Ketua RW 04, Maulana Sani, kejadian dipicu oleh putusnya kabel Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) milik PLN.
Kabel yang putus itu menimbulkan percikan api yang langsung menyambar atap rumah-rumah di sekitar Gang Pelita 10, Jalan Tomang Banjir Kanal. Api dengan cepat menyebar ke RT 007, 008, 009, dan 010, memanfaatkan kepadatan permukiman yang membuat akses pemadaman sulit.
Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) DKI Jakarta langsung merespons. Sebanyak 21 unit mobil pemadam kebakaran dikerahkan, didukung 100 personel, termasuk bantuan dari BPBD, PMI, Polsek Palmerah, Koramil, dan Tagana Dinsos. Warga setempat juga turut berjuang memadamkan api dengan seadanya, bahkan mengambil air dari Kali Ciliwung untuk membantu petugas.
Proses pemadaman selesai sekitar pukul 18.42 WIB, diikuti pendinginan hingga malam hari. Namun, titik api muncul berulang karena banyaknya sumber percikan, sehingga aliran listrik di area terdampak diputus total untuk mencegah kebakaran susulan.
Dampak Menyedihkan: Luka Bakar, Kerugian Miliaran
Korban jiwa tak ada, syukurlah. Tapi luka fisik dan batin meninggalkan bekas dalam. Sebanyak 14 warga terluka, mulai dari anak-anak hingga lansia, dengan keluhan luka bakar ringan, lecet di tangan dan kaki, hingga tersengat listrik saat evakuasi. Mereka langsung ditangani tim medis PK3D dan PMI di lokasi.
Dari sisi material, estimasi kerugian mencapai Rp1,3 miliar. Sebanyak 100 kepala keluarga (KK) atau sekitar 350 jiwa kehilangan tempat tinggal. Lokasi kejadian kini digaris polisi untuk penyelidikan lebih lanjut, sementara warga mengungsi di posko sementara Lapangan Taman Jati, RT 011 RW 04, Kelurahan Jatipulo.
Bantuan cepat mengalir. BPBD DKI Jakarta mendistribusikan logistik dasar seperti makanan, air, dan tenda pengungsian sejak malam kejadian. Dinas Sosial (Dinsos) Jakarta Barat juga menyalurkan bantuan awal, termasuk kebutuhan anak-anak dan lansia.
Mengapa Ini Terjadi? Masalah Listrik di Tengah Kepadatan Urban
Penyebab utama: masalah listrik, khususnya putusnya kabel SUTET yang diduga korsleting. Ini bukan kasus pertama di Palmerah. Pada Mei 2024, kebakaran di Kota Bambu Utara juga karena korsleting, menghanguskan 14 rumah. Data Gulkarmat menunjukkan, korsleting listrik menyumbang 70% kebakaran di Jakarta, terutama di permukiman padat seperti Jatipulo yang dekat dengan infrastruktur listrik utama.
Kepadatan penduduk (sekitar 20.000 jiwa per km² di Palmerah) memperburuk situasi. Rumah-rumah saling berdempetan, dengan atap seng dan kayu yang mudah terbakar. Akses jalan sempit juga menghambat truk pemadam, sementara sumber air terbatas.