JAKARTA – José Mourinho, Pelatih Fenerbahce, mengungkapkan penyesalan mendalam terkait mantan klub yang dilatihnya, AS Roma, klub yang ia latih selamat tiga tahun. Selama masa kepemimpinannya, Mourinho berhasil membawa Roma meraih gelar UEFA Conference League pada musim 2021-2022, pada tahun pertamanya. Satu tahun setelahnya, ia bahkan membawa Roma ke final Liga Eropa.
Namun, setelah pencapaian tersebut, nasib buruk menghampiri Mourinho. Pada Januari 2024, ia dipecat setelah Roma menderita empat kekalahan dalam tujuh pertandingan. Mourinho merasa dikhianati oleh pemain dan manajemen klub atas keputusan tersebut.
Beberapa bulan setelah pemecatannya, Mourinho berbicara secara terbuka mengenai penyesalannya. “Seharusnya saya pergi dari Roma usai final di Budapest,” kata Mourinho dalam wawancara yang dikutip BolaSport.com dari Marca. Ia mengungkapkan bahwa insiden di final Liga Europa, yang melibatkan wasit Anthony Taylor, membuatnya semakin merasa keputusan untuk bertahan adalah sebuah kesalahan.
Mourinho juga menambahkan, “Saya tak pernah melihat pertandingan Roma lagi, tapi saya menonton Inter Milan.” Ini mencerminkan sikapnya yang kini lebih tertarik pada tim-tim lain di Serie A.
Meski menyesali pilihan tersebut, Mourinho juga mengenang masa baktinya di Real Madrid, di mana ia merasa menyesal meninggalkan klub tersebut terlalu cepat. Ia mengungkapkan penolakan terhadap tawaran Florentino Perez, Presiden Real Madrid, untuk tetap bertahan lebih lama. “Saya tahu bertahan bersama Madrid akan menjadi keputusan yang tepat, tapi setelah tiga tahun dengan tantangan besar di Spanyol, saya memutuskan kembali ke Chelsea,” jelasnya.
Kini, Mourinho membuka babak baru dalam kariernya bersama Fenerbahce di Turki, membawa serta pengalaman dan 25 trofi yang diraihnya bersama enam klub berbeda.