Di balik rasa duka atas berpulangnya Guruh Soekarnoputra, terungkap sebuah kisah haru mengenai wujud bakti dan ikatan emosional mendalam sang maestro terhadap sang ibu, Ibu Negara pertama RI, Fatmawati.
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif periode 2020–2024, Sandiaga Uno, membeberkan bahwa jenazah almarhum dikafani menggunakan kain kesayangan milik almarhumah ibundanya. Tak hanya itu, mendiang juga dimakamkan tepat di samping pusara Ibu Fatmawati di TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat, usai salat Zuhur pada Sabtu (26/9/2026).
“Rencananya dimakamkan di Karet Bivak setelah Zuhur, dan itu sesuai dengan pesan beliau. Tampaknya beliau sudah menyiapkan sendiri kain-kain yang akan digunakan, yakni kain favorit dari Bu Fat,” ungkap Sandiaga saat melayat di rumah duka.
Berpulang Usai Dirawat di Rumah Sakit
Guruh Soekarnoputra mengembuskan napas terakhir pada usia 73 tahun di Rumah Sakit Siloam Semanggi, Jakarta, setelah sempat menjalani perawatan medis akibat sakit yang diidapnya dalam beberapa waktu terakhir.
Kabar duka tersebut pertama kali dikonfirmasi oleh Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto, melalui keterangan resminya.
“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Telah berpulang ke Rahmatullah Almarhum Bapak Mohammad Guruh Irianto Sukarnoputra bin Sukarno pada usia 73 tahun,” bunyi pernyataan resmi Hasto.
Lahir pada 13 Januari 1953, Guruh merupakan putra bungsu dari pasangan Proklamator RI Soekarno dan Fatmawati, sekaligus adik kandung dari Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputra.
Jejak Akademis, Budaya, dan Pengabdian Politik
Sosok Guruh dikenal sebagai insan yang multitalenta. Pendidikan formalnya ditempuh dari Perguruan Cikini, SMAN 25 Jakarta, hingga sempat mendalami bidang Arkeologi di University of Amsterdam, Belanda. Semangat belajarnya tak pernah padam hingga ia meraih gelar Sarjana Administrasi Publik serta Magister Manajemen Sumber Daya Manusia dari STIAMI.
Di panggung seni Nusantara, Guruh adalah legenda hidup. Ia mendirikan sanggar Swara Mahardika, GSP Production, serta grup musik eksperimental Guruh Gipsy dan Gank Pegangsaan bersama deretan musisi besar seperti Keenan Nasution, Abadi Soesman, dan Chrisye.
Deretan mahakarya musik ciptaannya seperti Kala Sang Surya Tenggelam, Melati Suci, Zamrud Khatulistiwa, Lenggang Puspita, hingga Galih dan Ratna tetap abadi melintasi zaman.
Di arena politik, Guruh mendedikasikan jiwanya bersama PDI sejak 1982 yang kemudian berlanjut di PDI Perjuangan. Dedikasi tersebut membawanya dipercaya rakyat menjadi anggota DPR RI dari daerah pemilihan Jawa Timur selama lima periode beruntun (1999–2024).
Kini, sang maestro telah beristirahat dengan tenang dalam dekapan kain favorit sang ibu—menuntaskan janji pengabdiannya bagi seni, budaya, dan bangsa Indonesia.