Pesawat Hercules C-130 milik Angkatan Udara Kolombia yang membawa 110 tentara dan 11 kru jatuh hanya sekitar dua kilometer setelah meninggalkan landasan pacu. Asap hitam pekat membumbung tinggi dari ladang hijau di tengah rimbunnya hutan Amazon, menandai lokasi jatuhnya burung besi tersebut.
Wakil Wali Kota Puerto Leguizamo, Carlos Claros, mengonfirmasi bahwa setidaknya 33 nyawa melayang dalam insiden ini. Sementara itu, 81 orang lainnya berhasil dievakuasi dalam kondisi luka-luka dan langsung dilarikan ke dua klinik kecil di kota sebelum akhirnya diterbangkan ke rumah sakit yang lebih besar di Bogota.
Heroisme Warga Lokal di Tengah Api
Di media sosial, beredar video mengharukan yang memperlihatkan warga sipil bahu-membahu membantu evakuasi. Karena sulitnya medan, beberapa tentara yang terluka terpaksa dibawa menggunakan sepeda motor oleh penduduk setempat. Warga lain juga terlihat berjibaku memadamkan api yang berkobar di sekitar bangkai pesawat agar tidak merambat ke hutan sekitar.
“Saya ingin berterima kasih kepada masyarakat Puerto Leguizamo yang langsung turun tangan membantu para korban kecelakaan ini,” ujar Claros dengan nada getir.
Polemik Alutsista dan Anggaran
Presiden Kolombia, Gustavo Petro, langsung bereaksi keras atas tragedi ini. Ia menuding hambatan birokrasi sebagai penghalang modernisasi alutsista yang selama ini ia suarakan. “Jika pejabat administrasi, baik sipil maupun militer, tidak sanggup menghadapi tantangan ini, mereka harus dicopot,” tegas Petro.
Namun, kritik tajam justru berbalik arah. Para penentang pemerintah menyebut bahwa di bawah kepemimpinan Petro, jam terbang pesawat militer justru dipangkas drastis akibat pemotongan anggaran, yang berdampak pada menurunnya pengalaman kru.
Investigasi Mesin Empat Baling-Baling
Erich Saumeth, pakar penerbangan Kolombia, mencatat bahwa pesawat yang jatuh ini merupakan hibah dari Amerika Serikat pada tahun 2020 dan baru saja menjalani overhaul atau pengecekan besar-besaran tahun lalu. “Saya tidak yakin ini karena kekurangan suku cadang. Investigasi harus fokus pada mengapa keempat mesin baling-balingnya bisa gagal berfungsi begitu cepat setelah lepas landas,” jelasnya.
Menteri Pertahanan Pedro Sánchez memastikan sejauh ini tidak ada indikasi bahwa pesawat tersebut diserang oleh kelompok pemberontak yang beroperasi di wilayah tersebut. Ia menyebut tragedi ini sebagai “luka mendalam bagi negara” dan meminta doa dari seluruh rakyat Kolombia bagi para korban.