JAKARTA – Program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 GWp menjadi bagian dari transformasi energi pemerintah melalui Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC).
Program tersebut mulai mengubah kehidupan warga di sejumlah pulau terluar yang sebelumnya hanya menikmati listrik beberapa jam dalam sehari.
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Muhammad Qodari menyebut listrik 24 jam membuka ruang baru bagi pendidikan dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Pernyataan itu disampaikan Qodari dalam konferensi pers pembaruan program prioritas dan PHTC di Jakarta, Rabu (30/9).
“Kehadiran PLTS membawa perubahan nyata bagi masyarakat di pulau-pulau terluar Indonesia,” kata Qodari.
Dampak program terlihat di Pulau Sembur, Batam, Pulau Rengit, Belitung, serta Pulau Tiga atau Nusa Telu, Maluku Tengah.
“Seperti di Pulau Sembur, Batam, Kepulauan Riau; Pulau Rengit, Belitung; serta Pulau Tiga atau Nusa Telu, Maluku Tengah. Akses listrik kini semakin memudahkan aktivitas keluarga sekaligus mendukung kehidupan dan perekonomian masyarakat pesisir,” paparnya.
“Inilah wujud transformasi bangsa, dari wilayah dengan keterbatasan akses energi menuju masyarakat yang lebih mandiri, produktif, dan memiliki kesempatan ekonomi yang lebih luas,” dia melanjutkan.
Di Pulau Sembur, keberadaan listrik sepanjang hari turut membantu anak-anak belajar dan mengaji pada malam hari tanpa terkendala minimnya penerangan.
Karzaman, nelayan setempat, juga merasakan dampak listrik 24 jam terhadap aktivitas keluarga dan kebutuhan sehari-hari masyarakat.
“Karzaman, nelayan Pulau Sembur, Batam, Kepulauan Riau, merasakan manfaat listrik 24 jam yang sebelumnya sulit dinikmati warga.”
“Dahulu, anak-anak kesulitan mengerjakan PR dan mengaji pada malam hari karena keterbatasan penerangan; kini mereka dapat belajar, mengaji, dan bermain dengan lebih nyaman,” ceritanya.
Bagi masyarakat yang mayoritas bekerja sebagai nelayan, listrik PLTS juga mendukung pengoperasian cold storage dan mesin pembuat es.
Fasilitas tersebut membantu mempertahankan kesegaran ikan serta mengurangi kebutuhan nelayan mencari es ke pulau lain.
“Bagi masyarakat Pulau Sembur yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan, pasokan listrik dari PLTS juga dapat mengoperasikan cold storage dan mesin pembuat es.”
“Fasilitas ini memudahkan nelayan menjaga kesegaran ikan hasil tangkapan, memperoleh es dengan harga lebih terjangkau, serta mengurangi kesulitan mencari es dari pulau lain,” jelasnya.
Di Pulau Rengit, Belitung, PLTS berkapasitas 78 kilowatt peak turut mengurangi ketergantungan warga terhadap genset berbahan bakar minyak.
Sebelum pembangkit surya beroperasi, kebutuhan bahan bakar genset membuat masyarakat harus menanggung pengeluaran listrik yang lebih besar.
Sementara itu, warga Pulau Tiga atau Nusa Telu di Maluku Tengah juga merasakan perubahan setelah PLTS menyediakan listrik sepanjang hari.
Sebelumnya, pasokan listrik di wilayah tersebut hanya tersedia melalui mesin diesel dari pukul 18.00 hingga 06.00 WIT.
“Kini, listrik tersedia sepanjang hari. Hania dapat menonton televisi dan mendengarkan musik pada siang hari, sesuatu yang dulu tidak mungkin dilakukan. Listrik 24 jam juga memudahkan pekerjaan rumah tangganya, terutama untuk menggunakan mesin cuci dan pompa air listrik,” lanjutnya.
Menurut Qodari, pengalaman ketiga wilayah tersebut menunjukkan bahwa akses energi memiliki dampak yang jauh lebih luas daripada sekadar menyediakan penerangan.
Listrik yang tersedia sepanjang hari turut mendukung kegiatan belajar, pekerjaan rumah tangga, aktivitas nelayan, efisiensi biaya, serta produktivitas ekonomi warga.
“Melalui program PLTS, pemerintah mendorong transformasi energi yang tidak hanya berorientasi pada penggunaan sumber energi bersih, tetapi juga menjawab kebutuhan nyata masyarakat.”
“Listrik 24 jam menjadi fondasi agar warga pulau terluar dapat hidup lebih nyaman, produktif, dan memiliki peluang ekonomi yang semakin luas,” pungkasnya.***