JAKARTA – Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, membela keputusan pemerintahannya untuk mengakui Palestina sebagai sebuah negara. Pernyataan ini disampaikan menyusul kritik dari Duta Besar Amerika Serikat untuk Israel, Mike Huckabee.
Dalam wawancara bersama ABC Radio pada Jumat (15/8/2025), Albanese menegaskan bahwa tugas utamanya adalah memperjuangkan kepentingan nasional Australia, bukan tunduk pada tekanan pihak luar.
“Dia duta besar suatu negara, bukan Australia, untuk negara lain, bukan Australia—Israel. Tugas saya adalah mewakili kepentingan Australia, dan warga Australia merasa muak dengan apa yang mereka lihat di TV setiap malam,” tegasnya, dilansir dari Anadolu.
Kritik dari Huckabee datang setelah Australia menyatakan akan mengakui negara Palestina dalam Sidang Umum PBB pada bulan September. Ia menyebut keputusan tersebut disambut dengan “kekecewaan yang sangat besar dan rasa jijik” oleh pemerintahan Trump.
Sementara itu, Albanese menyampaikan bahwa dunia sedang membangun momentum untuk mengakhiri kekerasan berkepanjangan di Timur Tengah dan mendorong perdamaian yang berkelanjutan. Ia menyoroti penderitaan warga sipil yang terdampak konflik di Gaza, terutama anak-anak.
“Ketika anak-anak kelaparan, ketika anak-anak kehilangan nyawa mereka sementara keluarga mengantre untuk mendapatkan makanan dan air, hal itu tentu saja memicu reaksi kemanusiaan. Konflik di Timur Tengah ini telah berlangsung selama 77 tahun,” ucapnya.
Albanese juga menggarisbawahi bahwa pengakuan terhadap negara Palestina telah lama menjadi posisi bipartisan dua negara.
Australia mengikuti langkah sejumlah negara Barat, seperti Inggris, Prancis, dan Kanada, yang juga mendukung pengakuan atas negara Palestina. Albanese menilai tindakan militer Israel di Gaza telah mengakibatkan jatuhnya banyak korban sipil, serta memperparah kemiskinan dan kekerasan yang “sama sekali tidak dapat diterima.”
Sejak Oktober 2023, lebih dari 61.000 warga Palestina dilaporkan tewas akibat serangan Israel, dengan sebagian besar wilayah Gaza hancur lebur.