JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto kembali menegaskan arah politik nasional yang tetap berlandaskan demokrasi dalam wawancara dengan majalah The Economist.
Pernyataan tersebut disampaikan sebagai penegasan komitmen pemerintah bahwa sistem demokrasi akan terus menjadi fondasi utama Indonesia di tengah dinamika global dan domestik.
“Izinkan saya menyatakan dengan jelas: Indonesia adalah negara demokrasi, dan akan tetap menjadi demokrasi.”
“Saya dipilih oleh lebih dari 90 juta rakyat Indonesia dalam pemilu yang bebas dan adil,” ujar Prabowo dalam pernyataannya di Majalah The Economist, dikutip pada Kamis (11/6/2026).
Prabowo menilai demokrasi tetap menjadi sistem terbaik yang tersedia meskipun tidak sepenuhnya sempurna dalam praktiknya.
“Saya percaya pada demokrasi. Saya memahami bahwa legitimasi demokratis diperoleh melalui kesabaran, kepercayaan rakyat, dan penghormatan terhadap kehendak rakyat,” katanya.
Dalam pandangannya, demokrasi juga harus membuka ruang kritik yang sehat sebagai bagian dari kontrol publik terhadap pemerintah.
“Saya menyambut kritik. Saya selalu membiasakan diri untuk menelaah dengan saksama setiap kritik yang ditujukan kepada pemerintah yang saya pimpin dan menimbangnya berdasarkan fakta, serta realitas yang dihadapi rakyat biasa,” kata Prabowo.
Namun, ia menekankan bahwa implementasi demokrasi di Indonesia perlu disesuaikan dengan karakter sosial dan budaya bangsa yang menekankan kebersamaan.
Dalam konteks tersebut, stabilitas politik dinilai menjadi prasyarat penting agar demokrasi tidak justru menghambat kemajuan nasional.
“Kami percaya demokrasi harus menghasilkan stabilitas, dan kemajuan, bukan kelumpuhan,” ucapnya.
Dari sisi ekonomi, Prabowo menyoroti pertumbuhan Indonesia yang berada di kisaran lima persen, namun dinilai belum cukup untuk membawa Indonesia menjadi negara maju.
Ia menegaskan target ambisius pemerintah untuk mencapai pertumbuhan ekonomi delapan persen per tahun sebagai lompatan besar pembangunan nasional.
“Kita tidak akan sampai ke sana dengan terus melakukan hal yang sama seperti sebelumnya. Dalam kondisi Indonesia, puas dengan status quo berarti stagnasi. Dan itu bukan jalan yang kami pilih,” tegasnya.
Pemerintah saat ini, lanjutnya, tengah mendorong berbagai program strategis seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Sekolah Rakyat, hilirisasi industri, hingga pembentukan Danantara sebagai motor transformasi ekonomi.
Menurutnya, proses transformasi nasional tidak pernah berjalan sempurna, namun harus tetap diarahkan pada perubahan struktural yang berkelanjutan.
“Perjalanan Indonesia tidak sempurna dan tidak akan sempurna. Sejarah mengajarkan, tidak ada transformasi nasional besar yang berjalan sempurna.”
“Namun kami bertekad agar negara ini tidak lagi didefinisikan oleh keraguan, ketergantungan, atau kinerjanya yang di bawah potensi,” Prabowo menegaskan.
Ia menutup pernyataannya dengan komitmen bahwa pemerintah akan merespons kritik publik melalui capaian nyata yang terukur dan dapat dirasakan masyarakat luas.
“Sebagai pemerintah, kami akan menjawab kritik bukan dengan retorika, melainkan dengan hasil nyata yang dapat diukur oleh siapa pun, di mana pun,” pungkasnya.***