JAKARTA – Rencana pemerintah menurunkan komisi aplikator ojek online (ojol) menjadi 8 persen disambut positif oleh para mitra pengemudi. Kebijakan ini dinilai membuka peluang peningkatan pendapatan sekaligus memberi harapan baru di tengah tekanan ekonomi yang masih dirasakan.
Wacana penurunan potongan komisi tersebut mendapat respons optimistis dari kalangan driver. Mereka melihat langkah ini sebagai upaya awal menuju perbaikan kesejahteraan, meski tetap menekankan pentingnya implementasi yang adil dan transparan.
Rahmat, salah satu mitra pengemudi, menilai kebijakan tersebut berpotensi berdampak positif jika dijalankan dengan pengawasan yang ketat. Ia berharap penurunan komisi benar-benar dirasakan langsung oleh driver.
“Saya jujur saja percaya dan tidak percaya. Takutnya ini (komisi) diturunkan, tapi ada sisi lain yang dinaikkan. Misalkan pelanggan tetap bayar Rp28 ribu, kita tetap dapat segitu-segitu saja karena fee layanan atau biaya aplikasinya yang dinaikkan,” ujar Rahmat.
Ia menyoroti ketidakpastian dalam penentuan biaya layanan oleh aplikator yang dinilai kerap berubah-ubah. “Fee ini masalah, aplikator menetapkannya tidak konsisten. Kadang Rp3.000, kadang Rp5.000. Kalau nanti komisi turun tapi biaya layanan naik, pelanggan tetap bayar mahal dan pendapatan kita tetap segitu-segitu saja. Itu celah besar,” katanya.
Rahmat juga berharap regulasi yang disiapkan pemerintah mampu menjaga keseimbangan antara kepentingan perusahaan dan mitra pengemudi. “Jangan sampai peraturan ini menekan pengusaha sampai mereka pindah ke luar negeri. Itu juga bahaya buat kita. Tapi tolong, aplikator lihatlah ke bawah, lihat susahnya kita di jalan,” tambahnya.
Sementara itu, mitra pengemudi lainnya, Andri, menyambut wacana tersebut dengan lebih antusias. Ia menilai penurunan komisi akan berdampak langsung pada peningkatan pendapatan driver.
“Kalau dampaknya baik buat driver, tidak apa-apa sebenarnya. Cuma kadang-kadang kalau diubah-ubah seperti itu, takutnya nanti ada program baru lagi,” ucap Andri.
“Kalau semuanya dibuat 8 persen, dari saya pribadi sih senang. Otomatis pendapatan kita bisa lebih. Apalagi sekarang kondisi ekonomi sedang tidak menentu,” tuturnya.
Sementara itu, Suyatno, mitra pengemudi dari platform lain, mengaku profesi sebagai driver ojol kini menjadi sumber utama penghasilannya. Ia berharap kebijakan ini dapat memberikan dampak nyata bagi kehidupannya.
“Mobil saya sudah dijual untuk berobat, sekarang tinggal motor ini saja. Usaha juga tutup karena tidak ada yang meneruskan, akhirnya saya beralih jadi ojek karena faktor usia juga sulit mencari pekerjaan lain,” ujarnya.
Menurut Suyatno, penurunan komisi akan sangat membantu dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Kalau memang turun jadi 8 persen, tentu sangat membantu menambah penghasilan. Di Maxim tarifnya memang lebih murah, tapi sehari saya paling dapat 5-6 trip. Kalau potongan kecil, sisa uang untuk bensin dan makan jadi lebih ada,” jelasnya.
Pemerintah diharapkan dapat memastikan kebijakan ini berjalan efektif dan tepat sasaran. Dengan pengawasan yang ketat dan transparansi dari aplikator, penurunan komisi dinilai berpotensi menciptakan ekosistem transportasi online yang lebih adil sekaligus meningkatkan kesejahteraan mitra pengemudi.