JAKARTA – Aishah Prastowo adalah sosok inspiratif yang menunjukkan bahwa mimpi besar tidak selalu harus berakhir di panggung gemerlap akademik dunia, tetapi bisa bermuara pada kontribusi nyata di tanah kelahiran.
Lulusan S3 Engineering Science dari University of Oxford, Aishah bukan hanya seorang cendekiawan muda berbakat, tetapi juga bukti hidup bahwa dedikasi pada ilmu dan pendidikan bisa mengubah paradigma.
Berikut adalah ulasan menarik tentang perjalanan dan kiprahnya yang luar biasa.
Perjalanan Akademik yang Gemilang
Lahir di Yogyakarta, Aishah tumbuh dalam keluarga akademisi. Ayahnya, dosen Fisika di Universitas Gadjah Mada (UGM), dan ibunya, lulusan Kimia dari kampus yang sama, menanamkan kecintaan pada ilmu pengetahuan sejak dini.
Bakatnya terlihat jelas ketika ia meraih medali perak di Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2004 saat masih SMP. Di usia 16 tahun, ia sudah menapaki bangku kuliah S1 Teknik Fisika di UGM, menunjukkan kecerdasannya yang jauh melampaui usianya.
Pada usia 20 tahun, Aishah melanjutkan studi S2 di Université Paris Descartes, Prancis, dengan beasiswa dari pemerintah Prancis, mengambil jurusan Interdisciplinary Approach to Life Science.
Di sini, ia belajar mendekati ilmu biologi dari berbagai sudut pandang, mulai dari fisika hingga pemrograman.
Pengalaman magang di laboratorium memicunya untuk mengejar S3 di University of Oxford, salah satu universitas terbaik dunia, pada 2014 dengan beasiswa LPDP generasi pertama.
Di Oxford, ia meneliti mikrofluida—teknologi pengelolaan cairan dalam volume sangat kecil—yang relevan untuk menciptakan alat diagnostik penyakit murah bagi daerah terpencil di Indonesia.
Penelitiannya di Oxford menghasilkan karya-karya ilmiah yang diakui dunia, seperti studi tentang mikrofluida berbasis tekstil dan kristalisasi protein untuk penyaringan obat, dengan kutipan hingga 113 kali di Google Scholar.
Prestasinya tidak hanya akademik; ia juga mewakili universitasnya di kompetisi internasional iGEM di MIT, memperluas jejaring penelitiannya dengan tim dari UI, ITB, dan UGM.
Keputusan Berani: Dari Peneliti ke Guru SMA
Meski awalnya bercita-cita menjadi peneliti, pandemi COVID-19 mengubah arah hidup Aishah.
Alih-alih mengejar karier akademik di luar negeri, ia memilih pulang ke Indonesia dan menjadi guru sekaligus kepala sekolah di Praxis High School, sebuah SMA alternatif berbasis STEAM (Science, Technology, Engineering, Art) di Ngemplak, Sleman, Yogyakarta.
Keputusan ini sempat mengundang pro dan kontra di media sosial. Banyak yang memuji langkahnya sebagai bentuk pengabdian, sementara sebagian lain mempertanyakan mengapa lulusan Oxford “hanya” menjadi guru.
Namun, Aishah menjawab keraguan itu dengan bijak. Baginya, pendidikan adalah cara paling nyata untuk memberi dampak langsung, terutama pada generasi muda.
“Kalau dirasa belum memberi impact yang besar, ya justru impact-impact kecil ini yang bisa lebih dirasakan manfaatnya buat orang-orang sekitar,” katanya.
Dengan ijazah S3 dari Oxford, ia membawa pendekatan ilmiah dan inovatif ke ruang kelas, menjadikan Praxis High School magnet bagi orang tua yang menginginkan pendidikan berbasis STEAM untuk anak-anak mereka.
Kontribusi Nyata dan Inspirasi
Keputusan Aishah untuk menjadi pendidik bukanlah langkah mundur, melainkan lompatan berani untuk “napak tanah” di Indonesia.
Ia percaya bahwa pendidikan tinggi—bahkan hingga S3—adalah investasi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, mulai dari bangku sekolah.
Ia juga mengajak guru-guru Indonesia untuk mengejar studi lanjut melalui beasiswa seperti LPDP, menekankan pentingnya pendidik yang terus belajar.
Di luar kelas, Aishah aktif berbagi pengalaman melalui blog pribadinya, seperti tips mengatasi “food-homesickness” di Inggris dan pengalaman bersepeda di Oxford.
Ia juga vokal tentang isu lingkungan, seperti penggunaan menstrual cup untuk mengurangi sampah, menunjukkan kesadarannya akan dampak kecil yang bermakna besar.
Mengapa Aishah Prastowo Menginspirasi?
Kisah Aishah adalah perpaduan antara kecemerlangan akademik, keberanian mengambil jalan tak biasa, dan dedikasi untuk Indonesia.
Ia membuktikan bahwa gelar dari universitas top dunia bukan sekadar trofi, tetapi alat untuk mengabdi.
Dengan semangat “migunani tumraping liyan” (bermanfaat bagi sesama), Aishah mengubah persepsi bahwa menjadi guru adalah pilihan “kurang prestisius”.
Sebaliknya, ia menunjukkan bahwa pendidikan adalah panggilan mulia untuk membentuk masa depan bangsa.
Menteri Keuangan Sri Mulyani bahkan memuji dedikasinya, menyoroti bagaimana Aishah tetap setia pada cinta terhadap ilmu meski rencana hidupnya berubah.
Kisahnya menjadi pengingat bahwa keberhasilan bukan hanya tentang jabatan atau gaji, tetapi tentang bagaimana kita memberi makna bagi orang lain.
Aishah Prastowo adalah teladan bahwa ilmu dan pengabdian bisa berjalan seiring. Dari laboratorium Oxford ke ruang kelas di Yogyakarta, ia menulis ulang definisi sukses dengan caranya sendiri—satu pelajaran pada satu waktu.***