JAKARTA – Indonesia kehilangan salah satu tokoh penting di bidang pertahanan dan militer. Mantan Menteri Pertahanan, Jenderal (Purn) TNI Ryamizard Ryacudu, meninggal dunia pada Minggu (31/5/2026). Kabar duka tersebut mengakhiri perjalanan panjang seorang prajurit yang mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk Tentara Nasional Indonesia dan negara.
- Lulusan Akabri yang Meniti Karier dari Lapangan
- Dari Pangkostrad hingga Kepala Staf Angkatan Darat
- Pernah Diusulkan Menjadi Panglima TNI
- Dipercaya Jokowi Menjadi Menteri Pertahanan
- Raih Penghargaan Veteran Tertinggi
- Serahkan Tongkat Estafet kepada Prabowo
- Dianugerahi Gelar Doktor Kehormatan
- Jejak Pengabdian yang Dikenang
Ryamizard dikenal sebagai sosok jenderal yang memiliki rekam jejak panjang di lingkungan TNI Angkatan Darat. Kariernya melesat dari berbagai posisi strategis hingga akhirnya dipercaya memimpin Kementerian Pertahanan pada periode pertama pemerintahan Presiden Joko Widodo.
Kepergian Ryamizard tidak hanya meninggalkan duka bagi keluarga dan kolega, tetapi juga menjadi momentum untuk mengenang perjalanan salah satu tokoh militer paling berpengaruh dalam dua dekade terakhir.
Lulusan Akabri yang Meniti Karier dari Lapangan
Ryamizard Ryacudu lahir pada 21 April 1950. Ia merupakan lulusan Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri) Darat tahun 1974.
Sejak awal karier militernya, Ryamizard dikenal sebagai perwira yang menempuh jalur komando. Pengalaman bertugas di berbagai wilayah operasi menjadi modal penting yang mengantarkannya ke posisi-posisi strategis di tubuh TNI Angkatan Darat.
Puncak kariernya mulai terlihat ketika dipercaya menjabat Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) V/Brawijaya pada 1999. Pada tahun yang sama, ia kemudian mendapat amanah sebagai Pangdam Jaya/Jayakarta, posisi yang diembannya hingga 2000.
Penugasan di dua komando wilayah penting tersebut menjadi batu loncatan menuju jabatan yang lebih tinggi di lingkungan TNI.
Dari Pangkostrad hingga Kepala Staf Angkatan Darat
Setelah memimpin Kodam Jaya, Ryamizard dipercaya menjadi Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) pada 2000. Jabatan itu diembannya hingga 2002.
Sebagai Pangkostrad, ia memimpin salah satu kekuatan utama TNI AD yang memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas nasional dan menghadapi berbagai ancaman keamanan.
Kariernya terus menanjak ketika diangkat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). Posisi tersebut dijabatnya hingga 2005 dan menempatkan dirinya sebagai salah satu figur paling berpengaruh di lingkungan militer Indonesia saat itu.
Kepemimpinannya di TNI AD membuat namanya kerap disebut sebagai salah satu jenderal yang memiliki peluang besar menempati jabatan tertinggi di tubuh TNI.
Pernah Diusulkan Menjadi Panglima TNI
Salah satu fase penting dalam perjalanan karier Ryamizard terjadi ketika namanya diajukan sebagai calon Panglima TNI.
Saat itu, pemerintah mengirimkan namanya ke DPR untuk menjalani proses uji kelayakan dan kepatutan. Namun pada akhirnya, jabatan Panglima TNI diberikan kepada Marsekal TNI Djoko Suyanto pada 2006.
Meski tidak terpilih, pencalonan tersebut menunjukkan besarnya kepercayaan yang diberikan terhadap kapasitas dan pengalaman Ryamizard dalam memimpin institusi pertahanan negara.
Setelah pensiun dari dinas aktif militer, nama Ryamizard masih sering muncul dalam berbagai dinamika politik nasional.
Menjelang Pemilihan Presiden 2014, ia sempat disebut-sebut sebagai salah satu figur yang berpotensi mendampingi Joko Widodo sebagai calon wakil presiden.
Kala itu, latar belakang militernya dianggap menjadi nilai tambah yang dapat memperkuat pasangan calon presiden. Namun pada akhirnya, Jokowi memilih berpasangan dengan Jusuf Kalla dalam kontestasi politik tersebut.
Dipercaya Jokowi Menjadi Menteri Pertahanan
Meski tidak menjadi calon wakil presiden, Ryamizard tetap memperoleh kepercayaan besar dari Presiden Joko Widodo.
Pada pembentukan Kabinet Kerja 2014, ia ditunjuk sebagai Menteri Pertahanan dan mengemban tugas tersebut hingga 2019.
Penunjukan itu menjadi babak baru dalam pengabdiannya kepada negara. Dari dunia militer, Ryamizard beralih ke ranah pemerintahan dengan tanggung jawab menjaga kebijakan pertahanan nasional.
Selama memimpin Kementerian Pertahanan, salah satu program yang paling menonjol adalah penguatan konsep Bela Negara. Program tersebut menjadi fokus utama pemerintah dalam membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kedaulatan dan keutuhan bangsa.
Raih Penghargaan Veteran Tertinggi
Dedikasi panjang Ryamizard di bidang pertahanan mendapat berbagai bentuk penghargaan.
Pada 2019, saat masih menjabat Menteri Pertahanan, ia menerima Bintang Penghargaan Veteran Tertinggi dari Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI). Penghargaan itu diberikan langsung oleh Ketua Umum LVRI Letjen TNI (Purn) Rais Abin.
Penghargaan tersebut menjadi salah satu bentuk pengakuan atas kontribusinya dalam dunia militer dan pertahanan nasional selama puluhan tahun.
Serahkan Tongkat Estafet kepada Prabowo
Tahun 2019 menjadi akhir masa tugas Ryamizard sebagai Menteri Pertahanan.
Dalam proses pergantian kabinet, ia menyerahkan jabatan kepada Prabowo Subianto yang ditunjuk Presiden Joko Widodo sebagai Menteri Pertahanan periode berikutnya.
Pergantian tersebut menandai berakhirnya kiprah Ryamizard di pemerintahan setelah lima tahun memimpin sektor pertahanan nasional.
Dianugerahi Gelar Doktor Kehormatan
Meski telah purnatugas, penghargaan terhadap kontribusi Ryamizard terus berdatangan.
Pada 2021, Universitas Pertahanan Republik Indonesia menganugerahkan Gelar Doktor Kehormatan (Honoris Causa) Ilmu Pertahanan bidang Perang Semesta kepada dirinya.
Penganugerahan itu menjadi simbol penghormatan atas pemikiran, pengalaman, dan kontribusinya dalam pengembangan konsep pertahanan nasional Indonesia.
Saat prosesi berlangsung, Menteri Pertahanan saat itu, Prabowo Subianto, turut hadir dalam acara tersebut.
Jejak Pengabdian yang Dikenang
Ryamizard Ryacudu meninggalkan warisan panjang dalam sejarah pertahanan Indonesia. Dari seorang taruna Akabri hingga menjadi KSAD dan Menteri Pertahanan, perjalanan hidupnya mencerminkan dedikasi panjang kepada negara.
Ia dikenal sebagai figur yang konsisten menyuarakan pentingnya menjaga kedaulatan bangsa, memperkuat pertahanan negara, serta membangun semangat nasionalisme di tengah masyarakat.
Kepergiannya menutup satu bab penting dalam sejarah militer Indonesia, namun jejak pengabdiannya akan tetap dikenang sebagai bagian dari perjalanan pertahanan nasional selama lebih dari empat dekade.